Resensi: Kereta Malam Menuju Harlok

  • Judul Buku             : Kereta Malam Menuju Harlok (Juara II Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak)
  • Penulis                   : Maya Lestari GF
  • Penerbit                 : Indiva Media Kreasi
  • Cetakan Pertama  : Januari 2021
  • Halaman                : 144 hlmn
  • ISBN                       : 978-623-253-017-1
  • Harga                     : Rp45.000,-

Pernahkah dada kita sesak, saat malam takbiran hari raya Idul Fitri, tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta? Percayalah, ada yang lebih tragis. Inilah yang dialami Tamir, tokoh utama dalam novel anak  berjudul Kereta Malam Menuju Harlok (2021) ini. Bayangkan, sudah 11 tahun usianya, belum pernah bertemu ayah dan ibunya. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan Kulila, tempat menampung anak-anak cacat. Tamir hanya memiliki satu kaki. Ia tinggal di Kulila bersama 9 anak cacat lainnya.

Kesedihan itu semakin mendalam, tepat pada saat malam takbiran, Amang si pengasuh terakhir Kulila, kabur. Tamir dan anak-anak Kulila semakin gamang. Kini mereka benar-benar menjadi anak-anak terlantar. Tidak memiliki orang tua, tidak memiliki keluarga, dan kini ditinggal kabur petugas panti.

Namun Tamir masih memiliki satu hal yang berharga: BUKU. Ia mengambil buku cerita bergambar kesayangannya berjudul “Kereta Malam”. Buku itu pemberian seorang donatur. Semakin malam, Tamir tenggelam dalam cerita dan imaji.

“Kereta langit menuju selatan. Menjemput anak-anak yang tersesat jalan. Serta semua orang yang ditinggalkan. Tuut … tuuut …! Dengarkan suaranya. Tunggulah kedatangannya. Kereta langit menuju selatan. Tempat semua anak mewujudkan impian.”

Tiba-tiba Tamir mengalami kejadian aneh. Mendung bergulung di langit, suara petir, suara hujan, dan suara roda kereta. Air tumpah dari langit menghantam tubuh Tamir. Kepala Tamir terantuk sesuatu. Ia hilang kesadaran.

Saat terbangun, Tamir telah berada di dalam kereta yang akan membawanya ke Harlok, satu dari sekian banyak kota di langit. Tamir masih bingung. Apakah ini mimpi atau nyata? Tapi rasa sakit akibat benturan yang ia alami sangat nyata. Muncul petugas tiket. Ia menyobek lembaran bukunya. Sehelai tiket melambai ke udara.

Sampai di sini, saya teringat sesuatu. Seperti pernah melihat adegan serupa. Ada seorang anak yang dijemput kereta aneh kemudian muncul petugas tiket dan menanyakan tiket. Aha, saya baru ingat, adegan itu ada di film The Polar Express (2004).

Poster film The Polar Express

Film ini bertema petualangan yang mengisahkan tentang bocah laki-laki yang meragukan keberadaan Sinterklas. Tiba-tiba ia mengalami petualangan magis. Lokomotif uap berhenti di depan rumahnya. Seorang petugas muncul dan menginformasikan kereta ini sedang perjalanan ke Kutub Utara. Meski sempat ragu, anak tersebut kemudian memutuskan untuk ikut naik kereta. Anak laki-laki itu mengalami berbagai petualangan magis dan mempesona bersama kereta The Polar Express.

Entahlah, kereta api sepertinya menjadi pilihan beberapa penulis untuk mengobati rasa rindu, nostalgia, penasaran, ketakutan, kesedihan, dan rasa ingin tahu seorang anak. Kita bisa melihatnya juga dalam buku The Railway Children, Anak-anak Kereta Api karya E. Nesbit (Gramedia, 1991).

Buku ini berkisah tiga anak yang awalnya hidup berkecukupan. Namun setelah kepergian ayah mereka yang entah ke mana, kehidupan mereka berubah drastis. Hidupnya lebih sederhana dan banyak berhemat. Mereka pun harus pindah ke desa terpencil bersama Ibu mereka. Kini mereka sulit mendapatkan makanan enak dan mewah, apalagi perapian yang senantiasa hangat dengan batubara melimpah. Bahkan untuk sekedar minum teh sore sambil makan kue, baru bisa dinikmati setelah Ibu mereka berhasil mendapat honor dari hasil menulis cerita anak.

Beruntunglah rumah mereka saat itu berdekatan dengan rel kereta api dan stasiun. Setiap hari mereka bisa menghabiskan waktu di sana. Berkenalan dengan kepala stasiun, portir, bahkan dengan seorang penumpang kereta baik hati yang mereka panggil Pak Tua. Banyak kebaikan dan pertolongan yang mereka lakukan pada keseharian di sana. Saat mereka bosan bermain di rel kereta api, mereka bermain di sekitar sungai. Tapi justru dimarahi tukang perahu. Meski begitu mereka tetap menolong tukang perahu saat kesusahan. Mereka memang suka menolong. Bahkan mereka mendapat kehormatan serta hadiah dari kepala stasiun karena berhasil menolong para penumpang kereta api dari kecelakaan longsor. Meski kisah yang sederhana, buku ini sangat menarik bagi anak-anak karena mengajarkan bagaimana harus berbuat baik dan menolong orang dengan ketulusan lewat sebuah cerita. Cerita anak yang khas dengan kepolosan anak-anak.

Jika kita ingin mengetahui lebih banyak cerita inspiratif dari berbagai negara, bisa membaca buku Anak-Anak Sejagat, Seri Hastakarya Anak-Anak (Tira Pustaka, 1984). Buku ini memuat tiga puluh cerita dari tiga puluh negara di dunia. Mulai dari Amerika, Argentina, Australia, Yunani, India, Inggris, Jepang, Italia, Rusia, hingga Indonesia. Uniknya lagi, ilustrasi setiap cerita dibuat oleh seniman negara asal cerita atau telah akrab dengan kebudayaan negara pengarang. Sehingga kita bisa merasakan nuansa yang berbeda dari setiap cerita yang disajikan beserta ilustrasinya.

Buku ini bukan hanya banyak memberi inspirasi dan motivasi dari sudut pandang yang berbeda di setiap negara asal. Tapi kita juga bisa mendapat kekayaan cerita dan budaya dari tiga puluh negara yang berbeda dalam satu buku. Tentu, dengan keunikan ini kita akan mendapatkan sesuatu yang istimewa.

Kita kembali ke kisah Tamir. Kini ia telah sampai di tambang bernama Harlok. Salah satu tambang di kota langit. Tamir dipaksa bekerja sebagai penggali tambang batu seruni, bersama anak-anak lainnya. Ia sangat menderita dan sengsara. Tamir ingin kembali ke Kulila, tapi tidak bisa. Untuk apa batu seruni ini? Batu seruni termasuk batu langka yang digunakan untuk membuat mata uang di langit.

“Di bumi kita bisa menulis sejumlah seratus ribu di sehelai kertas, meskipun harga kertas itu tidak sampai seribu rupiah, tapi di sini tidak bisa. Hanya yang berharga yang dijadikan mata uang. Apa menurutmu orang-orang langit mau menukarkan sepuluh sapi mereka dengan kertas buram bertuliskan angka seratus juta? Mereka tidak bodoh. Orang-orang bumi yang bodoh. Orang bumi seperti kau” kata Mo memberikan penjelasan kepada Tamir, betapa bedanya uang orang bumi dan orang langit.

Di sini, Tamir juga  bertemu Vled yang jahat dan beberapa orang kasar lainnya. Tapi Tamir juga bertemu Baz yang baik hati. Ia selalu datang memberikan pertolongan saat Tamir dalam kondisi terdesak. “kita sama-sama sengsara, karena itu kita saling membantu. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, keadaan akan bertambah sulit.” (hlm. 97)

Tamir juga bertemu singa kabut yang sangat ditakuti semua orang. Tapi Tamir merasa sangat mengenal singa kabut itu, mirip seperti Tamir. Sebelah matanya buta. Ia juga hanya memandang dunia ini dengan satu mata. Satu mata untuk melihat segalanya. Kita sama,  hati Tamir berbisik. Apakah kau juga sendirian seperti aku? Apakah kau terlantar seperti aku? Apakah kau juga tidak punya ayah dan ibu?.

Di akhir cerita, singa kabut inilah yang akan menyelamatkan Tamir, Baz, dan Rupi melarikan diri dari tambang Harlok. Baz pernah bilang, kalau ia bebas, ia akan mengantarkan semua anak tambang ke Departemen Anak Terlantar, dan mengembalikan Tamir ke Kulila. Lalu Baz akan menjadi bapak asuh Kulila.

Tamir terbangun dan tiba-tiba sudah berada di Kulila, panti asuhan kesayangannya. Tamir masih bingung. Apakah yang ia alami baru saja hanya mimpi atau nyata? Tapi luka-luka yang ia alami sangat nyata. Ia menjauhi cermin. Kakinya menginjak buku Kereta Malam. Ia ingat, membaca buku itu sebelum tidur. Pasti gara-ara buku itu ia mendapat mimpi aneh. Tapi dari mana luka-luka yang ia alami ini?

Ia semakin terkejut saat muncul seorang laki-laki dan anak perempuan yang memperkenalkan diri sebagai ketua Yayasan Kulila yang baru. Ia bernama Pak Basuki. Perawakannya sangat mirip dengan Pak Baz yang selalu menolongnya di Tambang Harlok. Dan anak perempuan itu sangat mirip dengan Rupi. Apa mimpi itu nyata? Apa itu hanya mimpi dan semua yang terjadi pagi ini hanya kebetulan?

Novel ini berakhir bahagia. Kulila kini sudah memiliki pengurus lagi. Semua anak-anak panti asuhan merayakan hari raya Idul Fitri dengan sangat gembira. Mereka pun bisa sepuasnya makan opor ayam. Menu makanan yang selalu nantikan saat hari raya.

Secara umum, novel anak karya Maya Lestari GF ini memenuhi syarat sebagai cerita petualangan hero (kepahlawanan). Bermula dari anak biasa (Tamir si anak panti asuhan), berada dalam keadaan yang tidak diduga (masuk kereta malam), si tokoh harus menempuh perjalanan sulit (bekerja di tambang Harlok), tokoh memiliki mentor yang menemani (Pak Baz), tokoh memiliki  keistimewaan (pemberani dan bisa menaklukkan singa kabut), tokoh memiliki musuh utama (Vled), tokoh berhasil menaklukkan musuhnya dan menjadi hero (Tamir mengalahkan Vled dan berhasil menyelamatkan Baz dan Rupi). Gaya bercerita, plot, dan imajinasi yang ditawarkan penulis sungguh pas untuk anak-anak. Memanjakan imajinasi dan bahasa anak.

Dwi Supriyadi (Penulis dan penyuka buku anak)

Resensi ini bisa juga dibaca di Goodreads: https://www.goodreads.com/review/show/3835195963

Wakaf dan Pendidikan

wakaf pendidikan

Sumber gambar: http://www.wakavia.com

Bulan September (27/9) tahun lalu Jawapos menampilkan tokoh Sukino (43) seorang tukang becak asal Dusun Ceplukan, Desa Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Ia berniat  mewakafkan 300 meter tanah yang diwariskan orang tuanya untuk membangun masjid. Kejadian itu begitu menyentuh sampai-sampai beberapa media meliput dan Bupati Karanganyar, Rina Iriani, berkenan meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi.

Sukino tentu seorang tukang becak yang istimewa. Ia begitu yakin mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, yang mana menurut Imam Abu Hanifah “harta yang telah diwakafkan tetap berada pada kekuasaan pewakaf (wakif) dan boleh ditarik kembali oleh si wakif kecuali untuk kepentingan masjid……”. Itu artinya Sukino tidak lagi memiliki kuasa untuk menarik kembali tanah yang diwakafkan, karena peruntukkanya bagi pembangunan masjid.

Tentu beliau memiliki alasan tersendiri, mengapa diwakafkan untuk pembangunan masjid dan bukan yang lain. Jika kita menilik di masa awal Islam, masjid sebagai harta wakaf mempunyai peran yang signifikan terhadap perkembangan peradaban. Selain memegang peranan utama sebagai sarana ibadah, masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran. Masjid di masa itu menjadi sentra mencerdaskan dan membangun peradaban umat. Di dalamnya diajarkan cara membaca dan memahami Al-Quran dan pengetahuan umum lainnya. Kemudian dari masjid-masjid itu lahirlah beribu-ribu sekolah (madrasah) yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar.

sejarah

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Sejarah wakaf pertama kali ditelandakan sendiri oleh Rasulullah (Asy-Syaukani 1374 H: 129) saat membangun masjid Quba di Madinah, “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam, orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedang orang-orang Anshor mengatakan wakaf Rasulullah.” Enam bulan kemudian (setelah pembangunan masjid Quba) Rasulullah kembali berwakaf dengan membeli tanah Bani Najjar dengan harga 800 dirham, yang kemudian dibangunlah masjid Nabawi.

Pengorbanan serupa bisa kita lihat dari perjuangan KH. Ahmad Dahlan  (pendiri Muhammadiyah) dalam film Sang Pencerah (2010) dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dalam film Sang Kiai (2013). Mencerdaskan umat, itulah misi yang selalu mereka perjuangkan. Mereka membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para anak didik terutama para fakir miskin untuk dapat menuntut ilmu. Ini menjadi bukti bahwa wakaf menjadi instrumen penting dalam keberlangsungan dan kemartabatan lembaga pendidikan yang didirikan.

 

Sejarah tidak pernah berhenti mengabadikan bagaimana wakaf berperan dalam membangun peradaban, pendidikan, dan ilmu pengetahuan untuk terus maju. Tercatat dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Al-Ayubi (491-650 H/1187- 1252 M) dengan dana wakaf telah berdiri berbagai macam yayasan-yayasan pendidikan. Di saat pemerintah belum bisa diharapkan memajukan pendidikan, individu-individu pilihan muncul membangun sekolah-sekolah. Mereka mewakafkan sebagian besar harta yang dimiliki untuk dunia pendidikan.

Aset-aset wakaf terus berkembang hingga pemerintahan Abbasiyah. Di mana pada kekhalifahan kelima dari kekhalifahan Abbasiyah mucul Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid (Benson Bobrick, 2013). Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid inilah pendidikan Islam berkembang sangat pesat. Hingga banyak ilmu-ilmu baru yang sampai saat ini terus dikembangkan, diantaranya bidang kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, farmasi, kimia, dan lain-lain. Juga dalam ilmu agama diantaranya tafsir, kalam, tasawuf, dan lain-lain.  Lembaga wakaf yang didirikan dari Baitul Hikmah ini menjadi sumber pembiayaan kegiatan pendidikan kala itu.

Abdul Qadir Annaimy (wafat 927 H) menjelaskan bahwa wakaf pada saat itu banyak yang dikhususkan untuk pendidikan para pelajar Makkah dan Madinah. Bahkan beberapa ulama telah mewakafkan harta khusus untuk menyediakan perealatan tulis seperti pulpen, kertas, dan tinta. Harta hasil wakaf umat Islam, kala itu juga banyak digunakan untuk kegiatan ilmiah. Misalnya, Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan dan melakukan penelitian, serta bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat.

Kemajuan pendidikan Islam di masa klasik bisa kita jadikan rujukan bahwa pendidikan dan wakaf memang mempunyai hubungan yang erat. Lembaga wakaf tiada henti menjadi sumber keuangan bagi keberlangsungan dunia pendidikan. Wakaf benar-benar mampu menjadi tumpuan untuk mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Pelajar tidak dituntut untuk membayar dana pendidikan secara penuh, sehingga baik miskin atau kaya mendapat kesempatan belajar yang sama. Terkhusus bagi mereka yang miskin akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang cukup sampai ia lulus. Karena itulah, pelajar-pelajar dan guru-guru di masa lampau terdorong untuk melakukan perjalanan ilmiah.

Satu hal lagi yang menjadi keunggulan, lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu setelah menyelesaikan suatu studi. Namun para ilmuwan diberikan kebebasan untuk mensosialisasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat umum dengan motivasi semata-mata karena Allah. Wakaf model inilah yang paling mendapat perhatian besar dari umat Islam. Hampir di setiap kota besar di negara-negara Islam, bisa dipastikan terdapat sekolah, universitas, perpustakaan, dan Islamic centre dari hasil wakaf. Seperti di Damaskus, Baghdad, Kairo, dan berbagai tempat lain.

Wakaf untuk kegiatan ilmiah seperti ini masih terus dijalankan, terutama dalam bentuk beasiswa, gaji pengajar, biaya penelitian (riset), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, seperti perpustakan dan alat-alat laboratorium, dan sebagainya. Salah satu yang menerapkan yaitu Universitas al-Azhar di Mesir yang berdiri lebih dari 1000 tahun lalu. Hingga kini pembiayaan universitas itu dikelola dari harta wakaf.

Apalagi potensi wakaf di  Indonesia sangat besar. Seperti yang bisa kita lihat dalam info grafis dari literasi zakat berikut:

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Di Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak lama. Namun sayang peruntukannya masih inklusif pada pembangunan masjid, mushalla, makam, rumah yatim piatu dan lain-lain. Hal ini terjadi karena masih adanya warga masyarakat yang menganggap bahwa nilai keabadian dari wakaf hanya terlihat dalam bentuk aset tetap seperti tanah dan gedung. Sementara wakaf untuk kepentingan pendidikan dan kegiatan ilmiah, masih banyak yang meragukannya. Apakah wakaf model seperti itu juga bernilai abadi (amal jariyah) yang pahalanya terus mengalir?

Kita berharap berbagai elemen yang mengelola Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf) dapat memberikan pencerahan terkait permasalahan ini. Sehingga Ziswaf khususnya wakaf dapat difokuskan bagi kemajuan pendidikan. Saya masih meyakini, permasalahan sosial suatu negara akan teratasi secara bertahap dengan semakin majunya pendidikan suatu negara. Semoga.

#literasizakat

#bimasislam.kemenag

Bahagia Bersama Buku

Oleh: Dwi Supriyadi*)

Kita tidak tahu ada berapa banyak anak yang tidak berbahagia dengan buku. Bukan karena ia tidak menyukai buku. Tapi karena sejak awal orang-orang dewasanya di sekitarnya tidak mengijinkannya berbahagia dengan buku. Anak-anak tidak diberikan pengalaman bagaimana mengakrabi buku, takut bukunya rusak, sobek, atau kotor karena dicoret-coret. Tentu anak akan lebih berbahagia jika bisa seperti Na Willa (Reda Gaudiamo, 2018). Meski bapaknya jarang pulang karena menjadi seorang pelaut, rumahnya dipenuhi buku-buku. Mak selalu membeli buku setiap minggu. Di toko buku, di kios kecil samping gereja, juga oleh-oleh bapaknya. Na Wila memang belum bisa membaca. Tapi setiap malam sebelum tidur, Mak selalu membacakannya buku cerita. Kadang-kadang berbisik, kadang keras, kadang seperti bernyanyi. Na Willa tidak pernah bosan. Na Willa anak yang beruntung dan berbahagia. Ia tidak pernah dilarang melihat-lihat isi buku atau pun bermain dengannya.

na willa

Dokumen Pribadi

Inilah yang perlu disadari sejak awal oleh orang tua, warga sekolah, dan masyarakat bahwa anak butuh berbahagia dengan buku agar mereka mengenal literasi lebih dini. Baik itu literasi baca-tulis, numerasi, pengetahuan alam (sains), keuangan (finansial), digital, maupun budaya dan kewargaan. Menjawab tantangan abad ke-21 kita membutuhkan anak-anak yang mampu berfikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Tantangan itu bisa kita jawab jika anak sudah mengenal dan berbahagia dengan buku sejak dini. Buku akan membuat anak memiliki banyak kosa kata baru, ide-ide brilian, rasa ingin tahu yang tinggi, dan memiliki daya pikir dan imajinasi yang kuat.

Lantas bagaimana membuat anak-anak bisa berbahagia dengan buku sejak dini? Tentu bukan perkara yang mudah. Peran serta orang tua, lingkungan sekolah, dan warga masyarakat sangat diperlukan. Kita awali dengan lingkungan yang paling inti dan dekat dengan anak yaitu rumah atau keluarga. Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan. Pertama, sediakan banyak bahan bacaan baik berupa buku, majalah, komik, koran, poster, mainan edukatif, dan lainnya. Akan lebih baik lagi jika buku itu sesuai jenjang usia dan perkembangan anak. Seperti dalam buku Na Willa di atas. Mengapa Na Willa bisa begitu menyenangi buku? Karena orang tuanya selalu menyediakan berbagai bacaan untuk Na Willa. Bahkan oleh-oleh dari orang tuanya setelah bepergian jauh adalah buku. Na Willa sangat akrab dengan buku karena bahan bacaan itu ada di rumah. Inilah yang harus dibiasakan oleh para orang tua.

kelaurga

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Mary Leonhardt dalam karyanya 99 Ways to Get Kids to Love Reading and 100 Books They Love. New (1997) mengungkapkan mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan koleksi bahan bacaan anak antara lain: mencermati perkembangan selera membaca anak, buku-buku fiktif yang imajinatif biasanya lebih disukai, menyediakan buku-buku yang alurnya melibatkan minat khusus anak,  anak biasanya suka buku-buku humor, dan menyediakan buku tentang tokoh yang dikenal anak-anak.

medongeng

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Kedua, memberikan contoh pada anak dengan meluangkan waktu untuk membaca setiap hari. Kita harus ingat bahwa anak-anak adalah seorang pengamat yang handal, pendengar yang ulung, dan peniru ajaib. Jika kita memarahinya dengan cara membating sesuatu, percayalah saat dia marah ia pun akan membanting benda di sekitarnya. Lengkap dengan ekspresi wajah dan intonasi suara seperti yang biasa ia lihat dan dengar. Ini juga berlaku untuk kebiasaan sehari-hari. Jika ada waktu luang kemudian orang tua menghabiskan waktunya dengan bermain game online atau menonton sinetron kesayangan, maka si anak pun akan melakukan hal yang demikian ketika dia punya waktu luang. Alangkah baiknya jika orang tua dan orang dewasa di rumah itu memberikan contoh dengan membaca buku di waktu luang. Mungkin si anak belum bisa membaca, tapi ia akan mulai berinteraksi dengan benda bernama buku. Ia akan beranggapan bahwa buku itu istimewa sehingga orang tuanya sering memegangnya. Kita harus mengingat pesan William Butler Yaats: “Pendidikan itu bukan seperti mengisi ember, tetapi seperti menyalakan api.”

bahan bacaan

Awalanya anak menjadikan buku sebagai media mainan yang menyenangkan. Misalnya membawa buku kesana-kemari, ataupun membolak-balikan halaman buku. Ia mulai menyadari akan adanya tulisan di dalam buku dan mengenal huruf abjad. Selanjutnya ia akan bertingkah seperti orang tuanya, anak mulai pura-pura membaca buku dan memahami gambar. Dalam dirinya pun semakin tumbuh rasa ingin tahu saat ia memasuki usia sekolah. Si anak mulai tertarik pada bacaan dalam buku, mengingat tulisan, dan berusaha membaca berbagai tanda mesti tetap didampingi orang tua. Namun saat ia sudah dapat membaca tulisan dengan lancar, ia pun akan melahap banyak buku tanpa perlu didampingi oleh orang dewasa.

Ketiga, membacakan buku kepada anak setiap harinya. Inilah salah satu program yang saat ini sedang digalakkan oleh Sahabat Keluarga Kemdikbud yaitu Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (GERNAS BAKU). Harapannya dengan hadirkan Gernas Baku bisa membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak, mempererat hubungan sosial-emosi antara anak dan orang tua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

membaca bersama

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Orville Prescott dalam karyanya A Father Reads to His Children mengatakan “Tidak banyak anak-anak yang belajar mencintai buku dari dirinya sendiri. Harus ada orang yang memancing mereka masuk ke dalam dunia bahasa tertulis yang indah. Seseorang harus menunjukkan jalan pada mereka.”

membaca bersama ibu

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Keempat, menambah intensitas komunikasi dengan anak dan menceritakan hasil bacaannya. Saat anak sudah mulai bisa membaca sendiri tanpa bantuan orang tua, biasanya orang tua melepaskan. Tidak lagi terjalin komunikasi yang lancar. Sehingga anak tidak tahu harus bercerita kepada siapa terkait buku yang sudah ia baca. Bahkan beberapa orang tua memaksaan buku apa saja yang harus ia baca dan pelajari karena menunjang pelajaran di sekolah. Cara pandang ini harus dibenahi. Bahwa anak tetap butuh orang tua untuk teman diskusi dan bertanya. Ia juga berhak menentukan sendiri buku apa yang ingin ia baca, tanpa paksaan dari pihak manapun. Jika ia tidak menemukan teman diskusi, mungkin ia akan menghentikan kegemaran membaca buku karena tidak lagi mengasyikkan.

Plato mengingatkan kita: “Jangan melatih putra Anda dengan paksaan dan kekerasan, melainkan dampingi mereka melakukan hal yang mereka sukai. Sehingga mereka akan dapat menentukan persimpangan dalam otak mereka dengan lebih baik.”

Kelima, melibatkan anak ketika orang tua hendak membeli buku. Biasanya anak akan lebih suka memilih buku yang akan dibacakannya dari pada dibelikan. Ia pun merasa bangga karena dihargai untuk menentukan pilihan bukunya sendiri. Ia pun akan bersemangat saat orang tua akan membacakan buku cerita yang telah dipilihnya.

Jim Trealese

Dokumen Pribadi

Jim Trelease dalam bukunya The Read Aloud Hanbook (Membaca buku dengan nyaring melejitkan kecerdasan anak) berpesan: kita harus memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam membaca itu tidak menyakitkan sehingga mereka senantiasa gembira mengingat pengalaman tersebut, kini, dan selamanya. Namun jika pengalaman-pengalaman awal itu menciptakan pembaca di jam sekolah (yang penuh paksaan), ia tidak akan menjadi pembaca seumur hidup.

Keenam, mengajak anak untuk mengunjungi perpustakaan umum, perpustakaan keliling, dan taman baca. Saat ini sudah banyak perpustakaan daerah (perpusda) yang dibuka sampai jam sembilan malam atau bisa juga mengunjungi perpustakaan keliling yang diadakan di car free day setiap hari minggu. Bahkan ada taman baca yang bisa dikunjungi setiap waktu. Mengunjungi perpustakaan bersama akan meningkatkan komunikasi dan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Anak pun bisa bertanya banyak hal terkait buku yang akan ia baca ataupun pinjam.

toko buku perpus

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Terkait perpustakaan, Jonatha Fozol memberikan peringatan keras. Katanya: “tidak ada bentuk kejahatan yang lebih membahayakan bagi anak-anak (di kota utamanya selain tidak adanya perpustakaan di sekolah (yang memadai).”

Selanjutnya peran lingkungan sekolah untuk menumbukan literasi pada anak. Saat anak sudah mememasuki usia sekolah, ia akan mulai mengenal lingkungan baru yang sama sekali berbeda dengan lingkungan di rumah. Ada guuru-guru, teman-teman, dan berbagai kegiatan yang ada selama di sekolah. Jika kita sudah membiasakan anak untuk berbahagia dengan buku di rumah, hal ini harus juga di dukung oleh pihak sekolah agar bisa bersinergi. Sekolah bisa memulainya membuat acara parenting dengan tema menumbuhkan minat baca anak. Sehingga setiap orang tua tahu arti penting anak berbuku. Selain itu sekolah juga bisa menyelenggarakan kegiatan kelas inspirasi dengan tema manfaat senang membaca. Kelas inspirasi akan membuat siswa memiliki pengalaman yang menyenangkan terkait membaca buku. Kemudian setiap kelas diadakan pojok literasi (perpustakaan mini di setiap kelas). Keadiran pojok literasi membutuhkan kerja sama orang tua dan sekolah. Setiap anak membawa buku bacaan kemudian dikumpulkan jadi satu dan dijadikan pojok literasi. Setiap anak booleh meminjam dan membaca selama ada waktu luang di sekeolah, tapi tidak boleh dibawa pulang. Jika ingin membawa pulang buku, boleh meminjam di perpustakaan umum sekolah.

sekolah

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Terakhir peran lingkungan masyarakat untuk menumbukan literasi pada anak. Selain di rumah dan di sekolah, anak banyak menghabiskan waktu dengan teman bermain di lingkungan masyarakat tempat tinggal. Agar budaya literasi yang sudah dibangun di rumah dan sekolah tidak luntur, masyarakat perlu melakukan peran aktif. Kita simak berita Kompas 7 September 2018 yang mengabarkan bahwa saat ini ada 154.000 perpustakaan dikelola oleh pelbagai pihak. Tahun 2019, akan ada kucuran dana yang dialokasikan khusus untuk mengembangkan perpustakaan daerah. Kabar ini mungkin menggembirakan di tengah euforia literasi yang terus berkembang di daerah-daerah. Gerakan litarasi di berbagai tempat terus digaungkan agar Indonesia tidak selalu dicap sebagai negara yang memiliki kemapuan membaca buku di bawah rata-rata. Hingga berterima selalu menerima sumbangan buku dari luar negeri. Kita pun patut bersyukur pemerintah dan masyarakat setempat tetap menyemai benih bagi pembaca buku. Kini telah hadir perpustakaan daerah dan taman baca di berbagai tempat yang bisa dikunjungi kapanpun.

Selain menyediakan taman baca, masyarakat juga memberikan aturan jam belajar 18.00-21.00 untuk tidak menyalakan televisi, bermain hp, atau game onlie di warnet. Keberhasilan aturan ini sangat terkait dengan masing-masing orang tua dan anak di setiap keluarga. Diberlakukannya jam belajar ini, diharapkan orang tua dan anak memiliki waktu untuk bercengkrama bersama tanpa gangguan televisi, hp, dan lainnya. Orang tua bisa mengisi waktu itu untuk membacakan buku, menemani belajar, atau menemani anak mengerjakan tugas sekolah.

Peran serta orang tua, lingkungan sekolah, dan warga masyarakat untuk terus membudidayakan literasi akan sangat berguna bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi. Buku memang bukan hanya bacaaan bagi anak. Buku adalah teman bermain. Tidak masalah anak akan menjadikan buku sebagai bacaan atau mainan. Selama ia berbahagia bersama buku.

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga

 

Baca lebih lanjut

Pendidikan Keluarga Berbasis Whatsapp

family WA

Sebenarnya telah banyak program pemerintah terkait pendidikan yang digulirkan seperti KIP (Kartu Indonesia Pintar), pembenahan kurikulum bahan ajar, penyediaan bahan bacaan penunjang melalui Gerakan Literasi Nasional, himbauan mematikan televisi pada jam wajib belajar antara pukul 18.00 hingga pukul 21.00, dan masih banyak lagi kebijakan lain dari pemerintah serta sekolah. Namun banyak kebijakan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya karena banyak orang tua yang tidak ikut andil mensukseskan kebijakan tersebut. Orang tua sering lalai memantau dan menindaklanjuti kebijakan pendidikan dari sekolah. Padahal dengan perkembangan teknologi khususnya jejaring sosial yang berkembang saat ini, kita bisa menggunakannya untuk mengatasi masalah ini.

Salah satunya yang penulis anjurkan untuk digunakan yaitu WhatsApp (WA). WA dipilih karena jejaring sosial ini sangat populer dan digemari masyarakat Indonesia. Hampir semua kalangan menggunakannya, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda-pemudi, hingga orang tua. Bahkan beberapa pejabat pemerintah kini muali memberikan laporan kerja ke atasannya juga menggunakan WA. Alangkah baiknya jika setiap keluarga inti juga membuat group WA yang anggotanya berisi ayah, ibu, dan anak-anak. Karena saat ini banyak dibentuk group WA keluarga besar (trah) namun jarang ada yang yang membuat group WA keluarga inti. Mungkin masaih dirasa belum perlu karena setiap hari bertemu. Padahal ada banyak manfaat yang bisa didapat jika setiap keluarga inti memilikinya.

Group WA keluarga ini nantinya sangat bermanfaat khususnya bagi orang tua yang sibuk dengan aktivitas di luar rumah dan hanya memiliki sedikit waktu bertemu anggota keluarga. Masing-masing anggota keluarga bisa tetap saling bertukar informasi terkait kegiatan yang dilaksanakan. Misalnya saat sebuah keluarga memiliki dua orang anak. Anak pertama tidak bisa pulang awal seperti biasanya karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ia bisa mengabarkan di group dan itu diketahui semua anggota keluarga. Begitu juga ketika anak kedua memenangkan suatu kompetisi, ia juga bisa mengabarkan di group sehingga mendapatkan dukungan dari anggota keluarga lain. Pun saat ibu atau ayah mengikuti pertemua wali murid, bisa disampaikan di group tersebut, sehingga semua anggota keluarga tahu dan bisa saling mendukung. Dengan seperti ini akan terjalin ikatan emosional yang kuat antar anggota keluarga, meski tidak bisa bersama terus selama 24 jam.

Namun ada satu hal yang harus dihindari dalam group keluarga ini. Membagikan tautan berita atau copy-paste artikel yang tidak ada kaitannya dengan aktivitas harian antar anggota keluarga. Karena perilaku latah semacam ini sudah banyak tersebar di group WA lain. Jika keluarga inti ikut membagikannya juga, akan terasa membosankan dan tujuan awal dibentuknya group WA keluarga inti tidak bisa tercapai. Apalagi jika informasi yang dibagikan belum jelas kebenarannya (hoax). Ayah atau ibu sebagai admin harus mengingatkan jika salah satu anggota keluarga melakukan perilaku ini. Tentu dengan teguran lembut yang tidak menyakiti perasaan.

Kita harus ingat nasihat orang tua bahwa sesuatu yang dianggap baik, belum tentu benar. Sesuatu yang dianggap benar, belum tentu baik. Sesuatu yang dianggap baik dan benar, belum tentu perlu untuk disampikan. Karena setiap keluarga memiliki latar belakang masalah yang berbeda. Belum tentu sesuatu yang dianggap baik dalam group WA lain akan baik jika dibagikan di group WA keluarga inti. Ini harus ditekankan ke anggota.

Apakah itu artinya unggahan group WA keluarga inti hanya akan membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolah/pendidikan anak? Tentunya tidak. Jika seperti itu, group WA ni akan garing, kaku, dan statis. Kita harus ingat tujuan awal dibentuknya adalah agar terjalin ikatan emosional yang kuat antar anggota keluarga. Sehingga masing-masing merasa menjadi bagian penting dalam keluarga, saling menghormati, saling menghargai, dan terbuka. Maka setiap anggota keluarga bisa saling berbagai aktivitas masing-masing.

Ibu bisa menginformasikan apa menu makan siang atau sore hari nanti. Anggota keluarga lain bisa memberikan masukan menu masakan jika kurang cocok. Jika ibu pulang terlambat karena ada keperluan penting, bisa diinformasikan juga sehingga anggota keluarga lain bisa persiapan untuk membeli makanan dari luar. Kemudian di malam hari ibu bisa menambahkah keakraban dengan bercerita kepada anak-anak. Dalam khasanah Jawa, ibu memiliki peranan penting dalam cerita lisan atau sastra klasik Jawa. Di tangan seorang ibu, kisah bergelimang kasih, perhatian, tanggung jawab, kesetiaan. “Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu merasa, berfikir dan berkata-kata” tulis Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon.

Dalam Serat Sanasunu gubahan Yasadipura II (1760-1845) juga memberikan sajian “Sastra piwulang” kebermaknaan ibu dalam pendidikan anak. Ibu membentuk dan mempengaruhi kejiwaan anak.

Mari sejenak kita menengok kisah ibu tangguh dalam film “Wonderfull Life”. Ia bernama Amalia, seorang ibu single parent dengan satu anak laki-laki bernaya Sinyo yang menderita penyakit disleksia. Gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf oada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca.

Meski begitu, Amalia terus mencari solusi untuk anaknya di tengah kesibukannya sebagai wanita karir yang cemerlang. Ia pergi ke psikiater, fisioterapi, herbalis, tabib, hingga dukun. Ia putus asa dan coba mengubah cara pandang terhadap buah hatinya. Dirinya tidak lagi memikirkan pekerjaan. Ia hanya bertekad memahami Sinyo yang suka menggambar dan menerima semua kondisi kemudian membahagiakannya.  Justru dengan cara itu anaknya bisa mulai bangkit dari disleksia.

Di sinilah peran penting ibu, bukan hanya memberikan pengajaran tata krama dan ilmu. Ibu adalah referensi, menuntun anak mengetahui berbagai nilai dan tindakan dengan cara pandang sang anak. Menjadi Ibu Zaman Sekarang

Ayah juga miliki peran yang tidak kalah sebagai kepala keluarga. Ayah bisa menginformasikan agenda rekreasi keluarga di group WA.  Mau ke pantai, camping, atau belanja buku. Kemudian anggota keluaarga lain menanggapi dan memberikan usulan. Pilihan tempat rekreasi tentu diputuskan atas dasar mufakat/kesepakatan. Jika belum mendapatkan keputusan saat di group WA, bisa dibicarakan saat makan bersama atau waktu santai.

Saat itulah ayah berperan penting sebagai pendorong kepercayaan diri anak, menumbuhkan rasa ingin tahu anak, melatih anak menjadi pemberani, melatih disiplin, dan menumbuhkan rasa peduli pada orang lain melalui agenda berbagai kepada yang membutuhkan. Seperti Apa sih Peran Ayah Dalam Mendidik Anak?

Salah satu novel sekaligus film yang mengisahkan secara apik peran bapak dengan sarana teknologi adalah “Sabtu Bersama Bapak” (2016). Novel ini digarap oleh Adithya Mulya dan filmnya disutradai oleh Monty Tiwa. Dikisahkan Bapak Gunawan memiliki dua putra (Satya dan Cakra). Sang bapak divonis tidak bisa membersamai kedua anaknya hingga dewasa karena mengidap kanker.

Akhirnya segala persiapan untuk masa depan Satya dan Cakra direncanakan dengan matang. Selain itu agar istri dan anak-anaknya tidak merasa jauh dengannya, sang bapak membuat video yang bisa ditonton oleh Satya, Cakra, dan istrinya. Hingga dewasa, pesan-pesan yang disampaikan bapak setiap Sabtu melalui rekaman video tidak pernah luput dalam ingatan kedua anaknya. Pesan menjadi pengingat dikala salah, menjadi semagat dikala putus asa, menjadi penghibur dikala sedih. Tentu pesan-pesan semacam ini bisa juga diberikan setiap bapak di group WA keluarga ini.

Sedangkan urusan anak lebih komplek. Ia memiliki dunia dan imajinasinya sendiri. Inilah yang harus dipahami oleh kedua orang tua. Bisa jadi anak-anak mengabarkan di group WA sesuatu yang dianggap sepele dan tidak penting. Kemudian orang tua mengabaikan dan tidak memberikan komentar apapun. Padahal sesuatu yang dianggap sepele dan tidak penting itu, bagi anak-anak sesuatu yang penting. Orang tua hendaknya memahami ini.

Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan imajinasi. Imajinasi anak kadang melampui imajinasi kaum dewasa. Alam pikiran anak adalah alam pikiran yang sedang tumbuh dan berkembang. Di masa itulah, anak-anak mulai meniru, melakukan mimikri kebudayaan terhadap apa yang ada di lingkungan mereka. Anak-anak tak jauh beda dari lingkungan dimana ia tumbuh dan dibesarkan. Dari lingkungan mereka itulah mereka melakukan proses adaptasi kebudayaan dan mengembangkan daya ciptanya. Orang tua bisa memantau perkembangan anak ini melalui informasi yang anak sampaikan di group WA.

Artinya orang tua tidak bisa melepaskan pendidikan pada sekolah saja. Dr. Maria Montessori (1998) mengatakan bahwa pendidikan bukan sekedar apa yang diajarkan guru, namun lebih pada pada proses alami yang berkembang secara spontan dalam diri seorang anak. Pendidikan bukag semata diperoleh dari kehebatan mengumpulkan kata-kata, namun lebih bersumber pada pengalaman dan penghayatan anak kepada lingkungannya. Saya kira di sinilah peran penting keluarga dan dibentuknya group WA keluarga inti.

Anak bukanlah miniatur yang dijadikan kelinci percobaan. Anak adalah entitas hidup yang memiliki akal dan kehendak. Ia bukan sebatang besi yang harus dibengkokkan menurut keinginan kedua orang tuanya. Ia juga bukan tanaman yang dibiarkan menjalar hingga menjadi benalu dikemudian hari. Maka orang tua harus terus mendampingi, membimbing, dan menyemangati anak. Orang tua dan rumah harus menjadi tempat yang paling aman bagi anak-anak untuk melepaskan segala keluh kesahnya di luar rumah. Jika untuk bertemu langsung belum memungkinkan, group WA keluarga inti bisa menjadi jalan pintas saat kondisi mendesak.  #sahabatkeluarga

family WA

Misteri Nabi Khidir

misteri-nabi-khidir

Judul Buku         : Misteri Nabi Khidir

Karya                 : Ibnu Hajar al-‘Asqalani

Penerbit              : Turos

Tebal Buku         : xxii + 218 hlmn

Cetakan I           :  April 2015

ISBN                  : 978-602-1583-21-0

 

Selama ini kita mengenal sepenggal kisah Nabi khidir yang disampaikan Alqur’an di dalam surah Alkahfi. Disebutkan bahwa Khidir melubangi perahu yang dinaikinya bersama nabi Musa, membunuh seorang anak yang masih suci, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh. Selebihnya kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana kehidupannya sehingga mendapat kemuliaan menjadi guru Nabi Musa. Di masa kini pun kita sering mendengar orang membicarakan Nabi Khidir, beberapa diantaranya mengklaim bahwa ia masih hidup hingga kini karena memang dikaruniai umum panjang.

Melalui buku Misteri Nabi Khidir (2015) ini, Ibnu Hajar al-Asqalani (pengarang Kitab Bulughul Marom) berupaya mengupas sosok Nabi Khidir ini melalui pengujian terhadap hadis-hadis yang berkenaan dengannya berikut sumber-sumbernya. Ibnu Hajar juga memaparkan secara komprehensif dan kritis berbagai macam dalil dan pendapat yang berbeda-beda tentang sosok Nabi Khidir.

Pertama, mengenai garis keturunan nabi Khidir. Ada sekitar 10 riwayat hadist yang mengungkapkan keturuanan nabi Khidir walau beberapa diantaranya lemah (dha’if) dan ditinggalkan (matruk). Ada riwayat yang mengatakan bahwa nabi Khidir adalah putra dari Nabi Adam as yang tercipta dari tulang sulbinya. Pendapat lain mengatakan Ia anak dari Qabil (Putra Nabi Adam). Ada pula yang mengatakan bahwa Khidir adalah cucu Nabi Harun, saudara laki-laki Nabi Musa. Riwayat lain Khidir adalah cucu Fir’aun. Ada pula yang berpendapat bahwa Khidir tidak lain adalah Nabi Ilyasa’.

Kedua, mengenai nama Khidir diambil dari sebuah khisah dalah shahih al-Bukhari dan Muslim bahwa suatu ketika Ia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang ia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah warna menjadi hijau (khadara’).

Ketiga, status Khidir apakah ia seorang nabi, waliyullah, atau manusia biasa. Mayoritas ulama menyepakati bahwa Khidir adalah seorang nabi, dan ilmunya merupakan pengetahuan tentang perkara-perkara batiniah yang diwahyukan kepadanya. Selain itu jika Khidir bukan Nabi, bagaimana mungkin seorang yang bukan nabi lebih tahu dari seorang nabi (Musa)?

Keempat, mengenai usia panjang nabi Khidir. Pendapat pertama karena Khidir adalah orang yang menguburkan jasad nabi Adam. Ketika masih hidup Nabi Adam berpesan bahwa Allah akan menurunkan azam kepada penghuni bumi. Maka bawalah jasadku ke dalam gua dan kuburkan aku di negeri Syam. Ia berdoa kepada Allah agar memanjangkan umur orang yang menguburkan jasadnya hingga hari kiamat. Ternyata tak ada seorang pun yang menguburkan jasad Adam, hingga Khidir melakukannya. Pendapat kedua, Khidir menemukan Mata Air Kehidupan. Siapapun yang meminum air darinya, dia tidak akan pernah mati selamanya, hingga dia sendiri meminta kepada Tuhannya supaya dijemput ajalnya.

Kelima, mengenai hubungan istimewa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as. Riwayat ini dari Hasan Basri, bahwa Nabi Ilyas menjadi wakil Allah di daratam sementara Nabi Khidir menjadi wakil-Nya di lautan. Keduanya diberi umum panjang hingga tiupan sangkakala pertama. Mereka selalu berkumpul setiap tahun pada musim haji.

Keenam, apakah saat ini nabi Khidir masih hidup atau sudah wafat. Ada banyak pendapat dan riwayat hadis yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani baik riwayat yang mengatakan bahwa nabi Khidir sampai saat ini masih hidup maupun nabi Khidir telah wafat. Riwayat Ibnu  Syahin ia mengatakan bahwa terdapat empat nabi yang masih hidup hingga saat ini. Dua orang berada di langit, yaitu Isa dan Idris dan dua nabi lainnya ada di bumi yaitu Ilyas berada di daratan dan Khidir berada di lautan

Walaupun ada begitu banyak hadis yang telah di ungkapkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam buku ini, namun sosok Nabi Khidir tetaplah misterius karena banyaknya hadist yang bertebaran namun sangat sedikit yang shahih. Selebihnya hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

Menelusuri Kerajan di Bumi Jawa

runtuhnya-majapahit

Judul Buku         : Runtuhnya Majapahit dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Bumi Jawa

Karya                 : Muhammad Muhlisin

Penerbit              : Araska

Tebal Buku         : 240 hlmn

Cetakan I           : Maret 2015

ISBN                  : 978-602-3000-91-3

 

Membaca kembali sejarah Majapahit dari runtuhnya hingga munculnya kerajaan-kerajaan Islam di bumi jawa maka kita akan menemukan berbagai peristiwa penting yang tak terduka. Intrik politik, strategi perang, perluasan wilayah hingga pertarungan budaya. Semua itu secara tidak langsung membentuk suatu peradaban baru di bumi Nusantara. Maka tak heran jika kita menelusuri warisan kebudayaan Majapahit kita bisa melihat keindahan arsitektur, ranah sosial, hingga ekonomi dan politik.

Majapahit dalam dinamika sejarah Nusantara menempati posisi sangat penting. Kekuasaannya yang begitu luas dan terbagi menjadi 14 daerah bawahan. Kebesaran Majapahit kala itu dikenal berbagai belahan dunia terutama kawasan Asia Tenggara. Negara asing segan dengan kemegahan Majapahit dan kekuatan militer di bawah kepemimpinan Patih Gajah Mada. Pantaslah jika Pramoedya Ananta Toer pernah berkata: Di Zama Majapahit arus balik peradaban berlangsung dari wilayah Bawah Angin di Selatan ke Atas Angin di Utara.

Diskursus tentang Majapahit tentu tidak bisa diabaikan keberadaan Kerajaan Singasari. Pertama periodesasi (rentang waktu) keduanya hampir bersamaan. Kedua para penguasa Majapahit cikal bakalnya dari penempaan di Singasari. Majapahit mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan didampingi Patih Gajah Mada. Berbagai aspek mengalami kemajuan yang pesat.

Dalam sistem politik misalnya, Majapahit yang kala itu berada di abad 14 telah memiliki sistem pemerintah yang mapan. Ada pembagian wilayah dan kekuasaan teritori dengan diangkat berbagai pejabat, ada pengelompokan masyarakat (mulai dari rakyat jelata, priayi, dan wong gedhe atau bangsawan), telah memiliki undang-undang pidana dan perdata yang bernama Kutara Manawadharmasastra.

Dalam bidang arsitektur Majapahit menjadi pelopor pembangunan pavilium (pendhopo) yang kini telah banyak diadoposi keraton dan menara masjid di Jawa serta komplek pura di Bali. Dari segi kesusastraan, Majapahit banyak meninggalkan karya sastra yang sarat akan makna mendalam seperti Parthayadnya, Niticastra, Nirarthaprakreta, Dharmacunya, Haricraya, Dewaruci, Sri Tantjung, dan lainnya.

Sejak berdirinya Majapahit mengalami pasang surut. Dinamika sejarah Majapahit tidak lepas dari berbagai gejolak sosial-politik saat itu. Tercatat sejak Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit telah terjadi berbagai pemberontakan diantaranya pemberontakan Rangga Lawe (1292 M), Lembu Sora (1200 Saka/1300 M), Nambi (1316 M), Kuti (1319 M), Perang Bubat(1279 Saka/1357 M), dan perang Paregreg (1404 M). Di akhir kejayaannya Majapahit diliputi perang antar keluarga raja dan mengalami keruntuhan pada tahun 140 saka (1478 M).

Sepanjang masa itu penyebaran ajaran Islam semakin pesat. Walau memang banyak teori berbeda yang mengungkap tahap masuknya Islam ke Nusantara. Apakah dari India, Arab, Persia, China, Kedatangan Islam dengan konsep rahmatalil’alamin berhasil menggantikan posisi Majapahit. Nilai-nilai Islam mampu memberikan warna tersendiri dalam berbagai sendi kehidupan kala itu. Kerajaan-kerajaan yang menggunakan konsep ajaran Hindu-Budha kehilangan pamornya dan kerajaan Islam menjadi emperium baru yang mengagumkan. Sejak masa itu atas usul dewan wali (walisongo) istilah raja (Kerajaan) diganti dengan nama Sutan (Kesultanan).

Kesultanan yang pertama kali didirikan adalah Kesultanan Demak dengan sultan pertama Raden Patah (1500 M-1518 M), kemudian diganti Pati Unus (1518 M-1521 M), dan terakhir Sultan Trenggana selama 25 tahun (1521-1546 M). Kemudian bediri Kesultanan Pajang di Jawa Tengah dengan sultan pertama Jaka Tingkir (Mas Karebet) pada tahun 1568-1582 M. Kemudian dilanjutkan Sulta Hadiwijaya dengan baiat dari Sunan Giri hingga tahun 1528 M.

Kesultanan Islam mencapai masa kejayaan pada masa Kesultanan Mataram di masa Sultan Agung (1613-1645 M). Kesultanan Mataram berkembang sangat besar kala itu mulai dari seluruh wilayah Jawa (Jawa Tengah, Timur, Barat), Palembang, Sukadana, Banjarmasin, dan Makasar. Untuk mengatur birokrasi dalam wilayah yang luas ditunjuk wakil sultan (pejabat birokrasi) di setiap wilayah. Dalam ekspansi militer sultan Agung berfokus pada pasukan infantri dan kavaleri. Rakyat juga dikenakan wajib militer. Dalam bidang kebudayaan Sultan Agung mengubah sistem penanggalan Jawa Saka ke penanggalan Jawa Islam. Proses perubahan itu berlangsung sejah 1 Sura tahun alip 1555 J yang jatuh pada 1 Muharram 1043 M (8 Juli 1633 M).

Setelah Kesultanan Mataram runtuh bermunculanlah kesultanan-kesultanan kecil di Jawa seperti kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, dan lainnya. Namun tidak ada yang mampu berkembang sebesar Kesultanan Mataram.

Kitab Hikmah dan Makrifat

al-hikam

Judul Buku         : Kitab al-Hikam, Untaian Hikmah Ibnu Athailah

Karya                 : Syekh Ibnu Thaillah

Penerbit              : Zaman

Tebal Buku         : 284 hlmn

Cetakan I           : 2015

ISBN                  : 978-602-1687-14-7

Siapapun orang yang pernah nyantri baik di pondok modern ataupun tradisional  akan mengenal kitab ini. al-Hikam bukan sembarang kitab dan popularitasnya hanya terlmpaui oleh Ihya’Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali. Konon di kalangan pondok pesantren kitab ini hanya diajarkan kepada santri “tingkat tinggi” karena bernuansa makribat dan “angker”. Sedangkan santri yang masih belia diajarkan ilmu fikih (ilmu syari’at) dan bahasa Arab (ilmu alat).

Sejatinya al-Hikam dipandang sebagai kitab kelas berat bukanlah karena struktur kalimatnya (bahasa) yang sulit dimengerti, namun lebih pada kedalaman makna dan makrifat yang dituturkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat. Untaian hikmah yang ada di dalamnya semakin terasa syahdu karena berima sekaligus kaya hikmah. Tak heran beberapa ulama ternama pernah pula menyusun syarahnya seperti Ibn ‘Abbad (1332-1390) dan Ibn ‘Ajibah (1747-1809). Di abad mutakhir ini al-Hikam kembali disyarah oleh ulama kotemporer: Imam Sibawaih El-Hasany. Penjelasannya dibuat dengan kalimat singkat, sangat berbeda dengan karya-karya yang sebelumnya muncul berisi uraian panjang.

Tidak sembarang orang bisa mesyarah al-Hikam, ia harus memadukan kematangan pengalaman religus, keindahan sastra, serta mampu menjadi panduan penempuh jalan spiritual bagi murid (orang yang berkehendak memperbaiki hubungannya dengan Allah) dan salik (orang yang meniti jalan menuju Allah) para peminat olah batin. Karena memang al-Hikam bukan kitab fikih yang membahas ibadah mahdoh. Ia merupakan mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spiritual.

Bagi mereka yang serius menekuni dunia tarekat, al-Hikam akan menjadi jembatan menuju Sang Tujuan. Karena di dalamnya tersimpan banyak petunjuk, kaidah, rambu-rambu, peringatan, dorongan, penggambaran keadaan, tahapan, serta kedudukan rohani  dalam berbagai situasi dan perjalanan tarekat. Dalam buku ini al-Hikam menyajikan arahan menuju sang Khalik dengan 30 sub-bab yang berbeda.

Dalam bab bersyukur misalnya“Engkau merdeka dari sesuatu yang tidak kauinginkan dan menjadi budak dari sesuatu yang kauharapkan”. Keinginan terhadap duniawi yang kuat akan menghabiskan seluruh perhatian kita. Tidak ada ruang dan waktu yang tersisa kecuali memikirkannya. Jika demikian adanya segera putuskan hubungan dengan dunia. Mulailah jalin hubungan mesra dengan-Nya, maka segera akan tampak terang padangan terhadap diri dan kehidupan (hal. 77).

Hikmah lain dapat kita lihat dalam bab sadar diri “Orang yang selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat, serta menyebut semua yang diketahui, itu menjadi bukti atas kebodohannya”

Untain hikmah al-Hikam mengandung beberapa hal yang dianggap ganjil oleh beberapa irang yang masih menggunggulkan gaya berfikir logis-empiris (materiil). “Maksiat yang melahirkan rasa hina dan papa lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan”.

Karena memang berfikir logis-empiris mengandung berbagai fragmentasi dan relativitas alam materi yang serba terbatas. Keterbatasan ini pada akhirnya membuat jiwa manusia sering hampa-kosong. Hidupnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hari demi hari tanpa arah hidup yang jelas: gamang. Tujuannya hanya satu: tetap hidup (eksistensi diri). Satu-satunya pilihan mengenali siapa diri kita yang sebenarnya: manusia. Kemudian dari manusia memasuki kesadaran sebagai abdullah (hamba Allah), dan terakhir memasuki kesadaran sebagai Khalifatullah (khalifah Allah di bumi).

Maka kunci memasuki kesadaran adalah kepasrahan total. Keberserahan diri sepenuhnya kepadanya menjadi jalam utama menemukan karunia dan keadilan-Nya yang tak terbantah. “Tuhanku, harapanku pada-Mu takkan putus meskipun aku melakukan maksiat kepada-Mu, sebagaimana kecemasanku takkan sirna walaupun aku telah mentaati-Mu” begitu pesan Ibn Atha’ilah.

Buku: Do’a atas Kata

bermula-buku

Judul Buku         : Bermula Buku Berakhir Telepon

Editor                 : Setyaningsih

Penerbit              : Jagat Abjad

Tebal Buku         : xiii + 123 hlmn

Cetakan I           :  2016

ISBN                  : 978-602-0947-35-8

 

Nasib koran sering nestapa tanpa makna: dibeli, dibaca, ditumpuk, ditimbang kiloan kemudian ditukar dengan recehan. Terkadang bukupun bernasip lebih  hina: dibeli, bungkus plastik belum terbuka, tidak sempat membaca, dan terjual. Sebagian berhasil dikhatamkan sebagian besar lainnya tidak. Penulis enggan menjadi manusia durhaka. Ia mengakrabi buku koran sebagai ikhtiar sembahyang dan do’a kata.

Ikhtiar dibuktikan dengan membaca koran pagi, menemukan tema apik, nakal, dan aneh. Percumbuan intim dengan koran dan buku membuatnya terbiasa melakukan pelacakan dan pembacaan. Buku ini membuktikan keseriusan Setya menggarap tema yang dianggap sepele dan remeh. Tentang ayam, perpustakaan, buku, sayur, buah, rumah, dasi, kresek, kardus, pohon, anak, perempuan, kota, taman, hingga toilet. Tema tak digubris ribuan pembaca namun berhasil diracik Setya menjadi sesuatu yang lebih luas: Nasionalisme-Indonesia.

Berbarengan membaca koran, ia berperan menjadi “dukun” dengan mantra-mantra pemanggil hingga berbagai referensi dari berbagai sumber berdatangan. Tema digali, dipelajari, dan akhirnya dihadirkan ke pembaca menjadi cerita-cerita apik. Tak heran pembaca akan menemukan tulisan sekaligus pameran buku-buku di dalamnya. Setidaknya ada sekitar 86 judul buku yang di”pamer”kan dalam buku ini.  Kesyahduan yang jarang kita saksikan dalam buku-buku berlabel best seller di rak-rak toko buku.

Tiga puluh esai dalam buku ini ada di antara ratusan esai yang tercipta dalam sembahyang kata, tulis Setya dalam Kata Pembuka. Kita patut berbangga, karena masih sedikit sang esais perempuan di negeri ini. Kita pun mendapat nuansa kesungguhan di dalamnya.  “Buat Pakdhe Djamari mohon maaf aku membatalkan diri menjadi guru. Semoga para malaikat tidak lupa bercerita bahwa aku tengah berada di jalan menjadi penulis”.

Tentu menjadi penulis bukan keputusan remeh. Pembaca akan menemukan jawaban atas kenekatan ini dalam esai berujudul Rezeki Penulis (hlm. 29). Bahwa ada rezeki yang datang dari kata-kata. Rezeki yang akan mengentaskan penulis dari kebodohan, kemiskinan baru, dan rasa lapar. Walau harus bertaruh: tulisan tidak dimuat, hutang buku semakin bertambah, dan tulisan tidak beres. Setya berlaku keras pada diri sendiri bahwa ia tidak akan menjadi apapun kecuali penulis. Meski jalan menjadi penulis memang tidak berbatu, tapi sering berhadapan pada banyak persimpangan dan belokan.

 

Esai-Buku

Diantara tema “sepele” dan “remeh” ada yang menjadi kecintaan penulis: pendidikan, perempuan, dan alam. Tulisan bertema khusus pendidikan penulis hadirkan dalam 5 esai: Buku-Buku Wajib Belajar, Pendidikan dan Literasi, Belajar dan Detak Waktu, Impian Anak-Anak Indonesia, Kekalahan Bahasa Indonesia. Walau Setya meninggalkan profesinya sebagai guru, namun kecintaan pada pendidikan tidak hilang. Pesannya: pendidikan tak seharusnya kaku dan administratif yang hanya berkutat pada urusan seragam, papan tulis, instruktur (guru), buku latihan soal, ujian, dan ijazah. Pendidikan selayaknya menjadi keakraban dan kasih sayang manusia dalam pertemuan untuk mencipta literasi sebagai peristiwa harian menuju masa-masa di depan.

Tulisan bertema perempuan (ibu,  nenek, perempuan) cukup istimewa sehingga penulis hadirkan dalam 8 esai: Membuku Ibu, Ibu di Semesta Anak dan Sekolah, Ibu, Berpuisi Ibu, Fotoisme Ibu Negara, Srikandi: Perempuan dan Nama, Nenek, Menelisik Bacaan Hijab. Penulis menemukan betapa posisi perempuan memiliki kedudukan mulia dalam kehidupan. Hal ini pula yang dikatakan agama, bahwa ibu memiliki kedudukan tiga tingkat di atas ayah. Walau abad mutakhir telah menggeser peran ibu menjadi penopang industrialisasi demi pencapaian karir. Setya memberikan pesan: Perempuan tanpa memiliki anak dan menjadi seorang ibu, belum menjadi perempuan (hlm. 41)

Tulisan bertema alam penulis hadirkan dalam 5 esai: Buku Berkebun Binatang, Pohon-Pohon di Kota, Semesta Pohon, Sang Air, Para Burung Berbicara. Setya berpesan: alam dan segala isinya menemani pada setiap kebudayaan. Pohon adalah rumah biologis, biografis, dan kultural. Hewan menjejaki dunia kasusastraan, kesenian, dan kekrajinan rakyat. Air memunculkan daya spiritual dan religiusitas yang mampu menjadi benteng. Semua itu tak seharusnya hanya dihitung dengan kalkulasi untung-rugi, dijadikan piaraan kesayangan, pajangan, hiasan atau aduan. Karena tanpa manusia sadari, alam akan bicara mencerminkan perangai di kehidupan.

Pembaca akan menemukan ketakjuban dari narasi esai dalam buku ini. Pun sering akan menemukan tanda tanya saat begitu sering muncul puisi Joko Pinurbo dalam kutipan. Selebihnya tiga puluh esai dalam buku penuh dengan tadabur dan kedalaman makna. Perumpaan dalam wahyu, ia seperti pohon yang baik: akar-akarnya menghujam ke bumi dan ranting-rantingnya menjulang ke langit.

Pada akhirnya setiap kata menjadi entitas hidup yang memiliki “akal” dan “kehendak”. Setiap kata yang ditulis akan memanjatkan do’a bagi penulisnya agar sampai ke mata pembaca. Do’a kata, pembaca, dan penulis akan menuntunnya menuju kelahiran buku sebagai manusia waras-bahagia. Pun buku akan menjadi teman menikmati lara.

Ora Weruh: Pamrih Literasi!‎

ora-weruh_kecil

Judul Buku         : Ora Weruh (Tulisan dan Tulisan)

Editor                 : M. Fauzi Sukri

Penerbit              : Jagat Abjad

Tebal Buku         : xxi + 403 hlmn

Cetakan I           :  Januari 2015

ISBN                  : 978-602-0947-06-8

 

Ora weruh mengingatkan kita pada lagu yang dinyanyikan Waljinah, sang Ratu Keroncong asal Solo, berjudul PiyePiye Embuh Ora Weruh. Ora weruh identik dengan sikap abai, masa bodoh, tak peduli. Namun bukan itu maksud yang diinginkan penyusun dalam buku itu. Judul Ora Weruh dipilih sebagai ikhtiar mengikuti semangat Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) dalam sinau dan mendokumentasikan gagasan.

Kala itu kelompok Ki Ageng Suryomentaram mengeluarkan semacam edaran (majalah) berjudul  Dudu Kowe, pada tahun 1930-an. Dalam majalah Dudu Kowe inilah gagasan filosofis ilmu kawruh bejo Ki Ageng Suryomentaram disebarkan. Gagasan ilmu kawruh bejo ini awalnya ceramah, tapi oleh para pengikutnya dituliskan dan disebarkan dalam majalah tersebut. Nama Dudu Kowe mengandung penyangkalan, penentangan, negasi, negativitas.

Pamrih majalah Ki Ageng Suryomentaram dan orang-orang yang menulis dalam majalah itu adalah kehendak untuk mengatakan pada seseorang bahwa seringkali apa yang dianggap sebagai diri seseorang bukanlah dirinya. Ia sering tertipu oleh hasrat, kehendak, nafsu, catatan masa lalu, dan sebagainya. Kita tidak pernah bertemu dengan manusia, yang kita hadapi adalah kehendak, hasrat, kemauannya, rasanya, dan sebagainya.

“Seumur hidupku, aku belum pernah ketemu manusia,” kata Ki Ageng Suryomentaram. Yang ditemukan Ki Ageng Suryomentaram baru hal- hal yang di luar manusia. Semua ini disebabkan oleh hilangnya enam sa: sabutuhe, saperlune, sacukupe, sabenere, samesthine, sakepenake. Nama edaran Duku Kowe sangat cocok dengan dasar pemikiran itu. Dasar itulah yang digunakan pihak penyusun menamai judul buku ini “Ora Weruh”, yang awalnya berbentuk edaran-edaran sederhana. Edisi perdana [Ora] Weruh terbit pada pertengahan Maret 2012 dengan tagline sedikit ganjil, “edaran [tak] memanjakan”.

Edaran itu mulanya untuk menampung tulisan-tulisan yang susah mendapatkan tempat dalam kehidupan publik, termasuk di dunia media sosial. Dan edaran ini, tidak berkehendak untuk memanjakan pembaca dengan gagasan besar. Edaran ini sebagai salah satu cara berliterasi, sinau, dan mendokumentasikannya. Maka, penyusunan esai yang ada dalam buku ini lebih sederhana: mengikuti angka serial penerbitan, dari edisi pertama berlanjut sampai edisi ke-21.

Jika diperhatikan lebih dekat tema-tema yang digarap dalam buku Ora Weruh ini, secara umum kita akan mendapat satu kesimpulan bahwa ada keprihatinan besar terhadap nasib literasi yang ada di masyarakat kita saat ini. Setidaknya, hampir semua penulis di dalamnya pernah menulis tentang nasib literasi. Yang paling mendapatkan banyak kritik tentu saja adalah kehidupan mahasiswa (juga dosen) yang ada di kampus. Keprihatinan terhadap nasib literasi ini bermuara pada kritik terhadap kehidupan intelektualitas mahasiswa di Indonesia.

Alasan-alasan yang diajukan memang masih sekitar komersialisasi pendidikan dan kemerosotan intelektualitas pendidikan. Namun, tampaknya yang dirasakan oleh para penulis dalam Ora Weruh ini, jauh dari kesan penalaran yang bersifat marxis atau neo-marxisme, atau yang lainnya, adalah keprihatinan yang bersifat literer, jika bisa menggunakan istilah itu. Keprihatinan ini mengarah pada minimnya hasrat mahasiswa untuk berbuku, membelanjakan uang untuk buku bacaaan bermutu bukan hanya untuk berdandan untuk tubuh, berdiskusi tema-tema yang bersifat publik dengan landasan pemikiran yang kokoh dan berbasis literasi, menulis untuk publik melalui media massa, mengobrolkan hal-hal yang terkait dengan literasi di lingkungan kampus atau dunia pendidikan secara umum, dan seterusnya.

Selain itu, ada argumentasi yang lumayan sering muncul dalam tulisan-tulisan Ora Weruh ini: sikap pertentangan dan ambivalensi terhadap modernitas dan tradisi. Saat tradisi disebutkan, kebanyakan melalui seorang tokoh, yang terjadi adalah penggunaan tradisi sebagai argumentasi untuk memperkuat nalar nostalgia, yang sering agak menghindari mengkritik tradisi yang (pernah) ada. Ada rasa penyesalan terhadap masa kini yang kalah baik dengan yang pernah ada di masa lain. Ini adalah gaya keprihatinan terhadap perkembangan masyarakat yang tidak bergerak membaik dan memperbaiki diri. Argumentasi ini semakin terdengar heroik saat bersinggungan dengan masalah literasi. Ini juga terlihat terhadap kritik-kritik yang dialamatkan pada pemerintah atau lembaga otoritas tertentu seperti lembaga pendidikan atau agama.

Maka, jika secara umum digambar corak buku Ora Weruh ini, yang paling menonjol adalah sifatnya sebagai gerakan literasi daripada gerakan pemikiran kaum muda. Ini tentu saja tidak mengherankan. Para penulis yang menyumbangkan esai-esainya dalam Ora Weruh hampir semuanya adalah para pembaca buku. Mereka hidup dalam dunia literasi. Dan buku Ora Weruh ini adalah dokumentasi gerakan di literasi di Indonesia, khususnya di Solo, yang ditopang oleh beberapa penulis dari beberapa daerah seperti Semarang, Kediri, Jakarta, Yogyakarta, dan beberapa daerah lain.

Gejala gerakan pemuda, setidaknya sejak Mei 1998, sudah tidak lagi mengarah pada gerakan politik sebagai jalur utama. Ada berbagai gerakan pemuda yang bersifat sporadis dalam berbagai bentuk, salah satunya yang cukup pesat adalah gerakan literasi. Di lingkungan mahasiswa di Solo, gerakan literasi ini berporos di Bilik Literasi Solo, yang menghadirkan obrolan dan buku. Kita tentu berharap buku lanjutan dari edisi Ora Weruh pertama ini segera lahir. Amin.

Solusi Medis Pecinta Alam

tindakan-medis-lintas-alam

Judul Buku          : Tindakan Medis Lintas Alam (Panduan untuk Pramuka, Palang Merah Remaja)

Pecinta Alam, dan Tim Sar

Penulis                 : Alan E. Nourse, M. D.

Penerbit               : Nuansa Cendekia

ISBN                   : 978-602-8394-31-4

Cetakan I             : April 2014

Halaman              : 168  hlm

 

 Belakangan ini muncul gagasan bahwa berjalan kaki, berkemah, hidup di hutan dan kembali ke alam dapat memberikan kepuasan mendalam pada diri manusia.  Bosan dengan hiburan modern akhirnya menuntun seseorang berkelana menikmati relaksasi di tengah ladang, hutan, padang rumput, dan pegunungan yang umum dikenal dengan survival/backpacker. Yang harus disadari adalah hidup di alam bebas tidak selalu menyediakan kemudahan hidup.

Kisah seorang aktivis sekaligus pecinta alam Soe Hok Gie (1942-1969) layak menjadi rujukan. Ia meninggal bersama rekannya Idhan Lubis di gunung Semeru pada tahun 1969. Identifikasi yang kita ketahui, mereka meninggal akibat menghirup asap beracun di gunung Semeru. Tentu mereka adalah seorang survival yang tangguh. Insiden yang mereka alami mungkin bukanlah sebuah kecerobohan, namun kejadian tak terduga dari fenomena alam.

Orang yang beranggapan bahwa beraktivitas di alam itu mudah, sering meremehkan pentingnya sebuah perencanaan dan persiapan yang matang. Tanpa di sadari bahwa di alam bebas ada acaman dari serangga, cuaca, satwa liar, kondisi alam yang diam-diam menunggu para pendaki. Ia bisa mengala keracunan, patah tulang, pingsan, pendarahan, hingga kondisi kritis. Padahal sebelumnya ia beranggapan bahwa yang diperlukan hanya dana (uang), mengumpulkan teman-teman, dan lokasi yang akan dituju. Ia mengabaikan prosedur penting dalam lintas alam. Akibatnya berujung pada luka, sakit, dan yang lebih fatal sampai menemui ajal.

Prinsip fundamental itu meliputi, apa yang harus dikenakan selama berada di alam, peralatan darurat apa yang perlu dibawa, bagaimana mengondisikan fisik mengatasi hambatan di alam bebas, dan bagaimana menjaga kenyamanan dan kesehatan fisik baik saat keberangkatan, berpetualanga, hingga kembali pulang.

Buku ini hadir memberikan saran-saran medis terbaik bagi para pecinta alam (survival/backpacker). Misalnya bagaimana jika korban mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan pingsan dan berhenti pernapasan. Padahal di dalam otak terdapat sel-sel syaraf halus yang terus-menerus membutuhkan pasokan oksigen. Jika sampai kekurangan oksigen selama lebih dari empat atau lima menit saja dapat menyebabkan kerusakan permanen. Jika pasokan oksigen sampai terputus selama tujuh atau delapan menit bisa berujung pada kematian.

Permasalahan lain dari aktivitas di alam yaitu sengatan matahari langsung. Besar kecilnya pengaruh yang ditimbulkan sangat bergantung pada jumlah pigmentasi setiap orang, warna kulit, dan intensitas lamanya sengatan matahari. Orang-orang berkulit terang dengan rambut merah atau pirang lebih rentan terhadap terbakar matahari dari pada mereka yang berambut cokelat, sebab mereka memiliki pigmentasi alami lebih sedikit dan kulit mereka tidak dapat menjadi cokelat dengan mudah atau mendalam.

Orang seperti itu akan mudah terbakat kulitnya hanya dengan sengatan matahari selama setengah jam pada sinar matahari yang kuat. Ia akan mengalami luka lepuh yang parah dalam waktu satu jam. Orang-orang Timur, Indian-Amerika, dan Negro jauh lebih kebal terhadap ancaman luka bakar. Namun kulit cokelat dan hitam juga dapat terluka apabila terkena sinar matahari cukup lama tanpa perlindungan.

Masalah lain dalam berpetualang di alam yaitu dislokasi sendi dan patah tulang. Ciri-ciri umum yang bisa nampak: rasa sakit yang amat sangat sampai menyiksa dan bengkak yang sangat kentara di daerah seputar cedera, terjadi kelainan bentuk yang nyata pada kontur normal tangan atau kaki, korban tidak mampu menggunakan anggota badan yang mengalami patah tulang tanpa disertai rasa sakit yang amat sangat, dan rasa ngilu yang mungkin dirasakan atau bahkan suara berciut yang bisa didengar setiap kali daerah yang cedera digerakkan. Tindakan aman mengatasi ini tentu tidak bisa sembarang. Karena bisa merusak jaringan kulit, otot, dan tulang.

Tentu permasalahan tak terduka di alam akan lebih komplek. Setidaknya apa buku ini bisa menjadi rujukan yang bisa dipercaya dalam memberikan tindakan medis. Karena ditulis oleh seorang dokter dan juga aktivis pecinta alam. Selamat berpetualang.