Bidadari Tanpa Sayap

 23133-3495-large

Judul Resensi : Bidadari Tanpa Sayap

Judul Buku : Cundamanik

Penullis :  Indah Darmastuti

Penerbit : Andi Publisher

Cetakan I :  April  2012

ISBN : 978-979-293-071-9

Tebal : 2308 Hlm


“Jika ada seorang lelaki yang demikian baik, bahkan terlalu baik, ia pantas dicurigai.” Demikian kesimpulan yang dulu sekali pernah ia buat bersama gank-nya semasa kuliah. Dan kini, yang mendekapnya mesra malam ini adalah lelaki mahabaik. Adakah kesimpulan itu berlaku untuknya? Untuk suaminya? Cunda gelisah luar biasa. 

Dua insan yang telah diikat dalam tali pernikahan, harus siap mengharmoniskan aneka ragam budaya, tradisi, keindahan, serta berbagai kekurangan pasangannya. Keluarga harmonis bukanlah keluarga yang sempurna tanpa ada masalah. Jusru keluarga harmonis akan terwujud ketika masing-masing pasangan menerapkan tanggung jawab secara baik. Jika itu terwujud, maka setiap permasalah rumah tangga yang datang pasti bisa diselesaikan dengan baik. Kita akan banyak belajar di situ. Dan membaca novel Cundamanik, akan semakin menambah khasanah kita bagaimana menghadapi masalah dalam rumah tangga secara jernih. Ada begitu banyak nilai kearifan yang coba diusung pengarangnya.

Adalah Prajna, seorang yang nyaris sempurna untuk seorang laki-laki single. Telah lulus S2 dan berhasil mendapatkan beasiswa S-3 sastra dan budaya di sebuah universitas di Muenchen, Jerman. Pria dengan kepribadian supel dan teguh pendirian. Ia baik, cerdas, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Wajar, jika menjadi dambaan setiap wanita. Sedangkan Cunda, seorang wanita desa yang cantik dan penuh sopan santun. Warga Gunungkidul yang selama hampir dua tahun menjadi relawan mengajar baca-tulis di luar jam kuliahnya di Gajah Mada.

Laki-laki dan perempuan yang sempurna. Takdirlah yang menyatukan mereka dalam pernikahan. Kesempurnaan Cunda seperti bidadari. Tapi seperti bidadari tanpa sayap. Tidak mampu terbang dan menikmati keindahan dunia secara utuh. Karena rahim yang ada di dalam tubuhnya, akan diangkat secepatnya. Ternyata di dalamnya menyimpan benih kanker yang tidak memungkinkan untuk pertumbuhan janin. Jika tetap di sana, maka rahim itu akan membawa Cunda pada kematian. Ini awal mula konflik dalam novel ini.

Padahal mempunyai anak merupakan salah satu tujuan dari berkeluarga dan merupakan impian sebagian besar pasangan yang telah menikah. Kehadiran anak dapat menjadi buah hati dan tanda cinta dari pasangan suami-istri. Seorang bayi juga umumnya ditunggu oleh orang tua dari pasangan yang ingin memiliki cucu.

Konflik ini semakin memuncak ketiga muncul nama Sekar, seorang mahasiswi ISI Yogya. Sekar adalah pacar Prajna saat masih kuliah di Yogja. Pada suatu malam Prajna bertemu Sekar di lereng Gunung Lawu di sebuah gubuk kecil milik penduduk. Ketika ia mendekap erat tubuh Sekar, semua telah terjadi. Setelah itu, Prajna tidak lagi bertemu Sekar

Siapakah sebenarnya Sekar? Mengapa setelah menikah dengan Cunda, ia masih mencari Sekar? Apakah Prajna mencari sekar untuk sekadar bertanggung jawab? Ke manakah Sekar selama delapan tahun? Mengapa ia menjual lukisan-lukisan  master piece-nya? Lalu, kebetulan apalagi yang terjadi di Gelari Spanyol, yang menjadi titik pengurai benang kusut dari kisah ini? Indah Darmastuti mengurai konflik ini dengan menarik dan tidak terduga.

Luar biasa! Itu kesan saya ketika sampai ke lembar akhir novel ini. Bahasanya yang renyah membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. Alur yang dihadirkan bergerak maju-mundur membuat saya penasaran untuk segera menyelesaikannya. Sudut pandang orang pertama yang digunakan secara berganti-ganti antara Prajna, Cunda dan Sekar membuat tokoh menjadi lebih hidup dengan karakter yang kuat. Tema tentang kekuatan cinta sejati membuat novel ini kaya dan layak dijadikan sumber referensi. Karena setting yang ditampilkan bukan sekadar tempelan, sehingga terasa benar-benar merupakan pengalaman pribadi pengarangnya.

Membaca novel ini, kita serasa dibawa berpetualang ke Jerman menikmati hujan salju, belanja ke flohmarkt-troedelmarkt, pasar loak yang ada di koenigsstrasse (jalan Raja) di Kota Stuttgart, menikmati musim gugur dengan daun-daun kering dari pohon maple, dan kondisi stasiun kereta api Muenchen dan InterCity Express –kereta api supercepat ke Stuttgart, . Sungguh, sebuah kreativitas dalam menghadirkan setting yang patut diacungi jempol.

Yang membuat berdecak kagum, pengarang berhasil mengakhiri konflik ini dengan pendekatan kekeluargaan dan keterbukaan. Saya hampir tidak menemukan celah untuk mengkritisi novel pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2010 ini secara konten. Kekuatan terbesar novel ini adalah cinta sejati dan kejernihan berfikir yang bisa dijadikan pelajaran bersama. Jangan saling menyalahkan dan saling menerima, itulah kata kunci yang ditawarkan dalam novel ini.

Cundamanik. Sebuah Mahakarya! Salah satu literasi bermutu yang layak untuk dikoleksi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s