Wakaf dan Pendidikan

wakaf pendidikan

Sumber gambar: http://www.wakavia.com

Bulan September (27/9) tahun lalu Jawapos menampilkan tokoh Sukino (43) seorang tukang becak asal Dusun Ceplukan, Desa Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Ia berniat  mewakafkan 300 meter tanah yang diwariskan orang tuanya untuk membangun masjid. Kejadian itu begitu menyentuh sampai-sampai beberapa media meliput dan Bupati Karanganyar, Rina Iriani, berkenan meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi.

Sukino tentu seorang tukang becak yang istimewa. Ia begitu yakin mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, yang mana menurut Imam Abu Hanifah “harta yang telah diwakafkan tetap berada pada kekuasaan pewakaf (wakif) dan boleh ditarik kembali oleh si wakif kecuali untuk kepentingan masjid……”. Itu artinya Sukino tidak lagi memiliki kuasa untuk menarik kembali tanah yang diwakafkan, karena peruntukkanya bagi pembangunan masjid.

Tentu beliau memiliki alasan tersendiri, mengapa diwakafkan untuk pembangunan masjid dan bukan yang lain. Jika kita menilik di masa awal Islam, masjid sebagai harta wakaf mempunyai peran yang signifikan terhadap perkembangan peradaban. Selain memegang peranan utama sebagai sarana ibadah, masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran. Masjid di masa itu menjadi sentra mencerdaskan dan membangun peradaban umat. Di dalamnya diajarkan cara membaca dan memahami Al-Quran dan pengetahuan umum lainnya. Kemudian dari masjid-masjid itu lahirlah beribu-ribu sekolah (madrasah) yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar.

sejarah

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Sejarah wakaf pertama kali ditelandakan sendiri oleh Rasulullah (Asy-Syaukani 1374 H: 129) saat membangun masjid Quba di Madinah, “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam, orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedang orang-orang Anshor mengatakan wakaf Rasulullah.” Enam bulan kemudian (setelah pembangunan masjid Quba) Rasulullah kembali berwakaf dengan membeli tanah Bani Najjar dengan harga 800 dirham, yang kemudian dibangunlah masjid Nabawi.

Pengorbanan serupa bisa kita lihat dari perjuangan KH. Ahmad Dahlan  (pendiri Muhammadiyah) dalam film Sang Pencerah (2010) dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dalam film Sang Kiai (2013). Mencerdaskan umat, itulah misi yang selalu mereka perjuangkan. Mereka membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para anak didik terutama para fakir miskin untuk dapat menuntut ilmu. Ini menjadi bukti bahwa wakaf menjadi instrumen penting dalam keberlangsungan dan kemartabatan lembaga pendidikan yang didirikan.

 

Sejarah tidak pernah berhenti mengabadikan bagaimana wakaf berperan dalam membangun peradaban, pendidikan, dan ilmu pengetahuan untuk terus maju. Tercatat dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Al-Ayubi (491-650 H/1187- 1252 M) dengan dana wakaf telah berdiri berbagai macam yayasan-yayasan pendidikan. Di saat pemerintah belum bisa diharapkan memajukan pendidikan, individu-individu pilihan muncul membangun sekolah-sekolah. Mereka mewakafkan sebagian besar harta yang dimiliki untuk dunia pendidikan.

Aset-aset wakaf terus berkembang hingga pemerintahan Abbasiyah. Di mana pada kekhalifahan kelima dari kekhalifahan Abbasiyah mucul Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid (Benson Bobrick, 2013). Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid inilah pendidikan Islam berkembang sangat pesat. Hingga banyak ilmu-ilmu baru yang sampai saat ini terus dikembangkan, diantaranya bidang kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, farmasi, kimia, dan lain-lain. Juga dalam ilmu agama diantaranya tafsir, kalam, tasawuf, dan lain-lain.  Lembaga wakaf yang didirikan dari Baitul Hikmah ini menjadi sumber pembiayaan kegiatan pendidikan kala itu.

Abdul Qadir Annaimy (wafat 927 H) menjelaskan bahwa wakaf pada saat itu banyak yang dikhususkan untuk pendidikan para pelajar Makkah dan Madinah. Bahkan beberapa ulama telah mewakafkan harta khusus untuk menyediakan perealatan tulis seperti pulpen, kertas, dan tinta. Harta hasil wakaf umat Islam, kala itu juga banyak digunakan untuk kegiatan ilmiah. Misalnya, Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan dan melakukan penelitian, serta bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat.

Kemajuan pendidikan Islam di masa klasik bisa kita jadikan rujukan bahwa pendidikan dan wakaf memang mempunyai hubungan yang erat. Lembaga wakaf tiada henti menjadi sumber keuangan bagi keberlangsungan dunia pendidikan. Wakaf benar-benar mampu menjadi tumpuan untuk mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Pelajar tidak dituntut untuk membayar dana pendidikan secara penuh, sehingga baik miskin atau kaya mendapat kesempatan belajar yang sama. Terkhusus bagi mereka yang miskin akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang cukup sampai ia lulus. Karena itulah, pelajar-pelajar dan guru-guru di masa lampau terdorong untuk melakukan perjalanan ilmiah.

Satu hal lagi yang menjadi keunggulan, lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu setelah menyelesaikan suatu studi. Namun para ilmuwan diberikan kebebasan untuk mensosialisasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat umum dengan motivasi semata-mata karena Allah. Wakaf model inilah yang paling mendapat perhatian besar dari umat Islam. Hampir di setiap kota besar di negara-negara Islam, bisa dipastikan terdapat sekolah, universitas, perpustakaan, dan Islamic centre dari hasil wakaf. Seperti di Damaskus, Baghdad, Kairo, dan berbagai tempat lain.

Wakaf untuk kegiatan ilmiah seperti ini masih terus dijalankan, terutama dalam bentuk beasiswa, gaji pengajar, biaya penelitian (riset), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, seperti perpustakan dan alat-alat laboratorium, dan sebagainya. Salah satu yang menerapkan yaitu Universitas al-Azhar di Mesir yang berdiri lebih dari 1000 tahun lalu. Hingga kini pembiayaan universitas itu dikelola dari harta wakaf.

Apalagi potensi wakaf di  Indonesia sangat besar. Seperti yang bisa kita lihat dalam info grafis dari literasi zakat berikut:

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Di Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak lama. Namun sayang peruntukannya masih inklusif pada pembangunan masjid, mushalla, makam, rumah yatim piatu dan lain-lain. Hal ini terjadi karena masih adanya warga masyarakat yang menganggap bahwa nilai keabadian dari wakaf hanya terlihat dalam bentuk aset tetap seperti tanah dan gedung. Sementara wakaf untuk kepentingan pendidikan dan kegiatan ilmiah, masih banyak yang meragukannya. Apakah wakaf model seperti itu juga bernilai abadi (amal jariyah) yang pahalanya terus mengalir?

Kita berharap berbagai elemen yang mengelola Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf) dapat memberikan pencerahan terkait permasalahan ini. Sehingga Ziswaf khususnya wakaf dapat difokuskan bagi kemajuan pendidikan. Saya masih meyakini, permasalahan sosial suatu negara akan teratasi secara bertahap dengan semakin majunya pendidikan suatu negara. Semoga.

#literasizakat

#bimasislam.kemenag

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s