Resensi: Kereta Malam Menuju Harlok

  • Judul Buku             : Kereta Malam Menuju Harlok (Juara II Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak)
  • Penulis                   : Maya Lestari GF
  • Penerbit                 : Indiva Media Kreasi
  • Cetakan Pertama  : Januari 2021
  • Halaman                : 144 hlmn
  • ISBN                       : 978-623-253-017-1
  • Harga                     : Rp45.000,-

Pernahkah dada kita sesak, saat malam takbiran hari raya Idul Fitri, tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta? Percayalah, ada yang lebih tragis. Inilah yang dialami Tamir, tokoh utama dalam novel anak  berjudul Kereta Malam Menuju Harlok (2021) ini. Bayangkan, sudah 11 tahun usianya, belum pernah bertemu ayah dan ibunya. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan Kulila, tempat menampung anak-anak cacat. Tamir hanya memiliki satu kaki. Ia tinggal di Kulila bersama 9 anak cacat lainnya.

Kesedihan itu semakin mendalam, tepat pada saat malam takbiran, Amang si pengasuh terakhir Kulila, kabur. Tamir dan anak-anak Kulila semakin gamang. Kini mereka benar-benar menjadi anak-anak terlantar. Tidak memiliki orang tua, tidak memiliki keluarga, dan kini ditinggal kabur petugas panti.

Namun Tamir masih memiliki satu hal yang berharga: BUKU. Ia mengambil buku cerita bergambar kesayangannya berjudul “Kereta Malam”. Buku itu pemberian seorang donatur. Semakin malam, Tamir tenggelam dalam cerita dan imaji.

“Kereta langit menuju selatan. Menjemput anak-anak yang tersesat jalan. Serta semua orang yang ditinggalkan. Tuut … tuuut …! Dengarkan suaranya. Tunggulah kedatangannya. Kereta langit menuju selatan. Tempat semua anak mewujudkan impian.”

Tiba-tiba Tamir mengalami kejadian aneh. Mendung bergulung di langit, suara petir, suara hujan, dan suara roda kereta. Air tumpah dari langit menghantam tubuh Tamir. Kepala Tamir terantuk sesuatu. Ia hilang kesadaran.

Saat terbangun, Tamir telah berada di dalam kereta yang akan membawanya ke Harlok, satu dari sekian banyak kota di langit. Tamir masih bingung. Apakah ini mimpi atau nyata? Tapi rasa sakit akibat benturan yang ia alami sangat nyata. Muncul petugas tiket. Ia menyobek lembaran bukunya. Sehelai tiket melambai ke udara.

Sampai di sini, saya teringat sesuatu. Seperti pernah melihat adegan serupa. Ada seorang anak yang dijemput kereta aneh kemudian muncul petugas tiket dan menanyakan tiket. Aha, saya baru ingat, adegan itu ada di film The Polar Express (2004).

Poster film The Polar Express

Film ini bertema petualangan yang mengisahkan tentang bocah laki-laki yang meragukan keberadaan Sinterklas. Tiba-tiba ia mengalami petualangan magis. Lokomotif uap berhenti di depan rumahnya. Seorang petugas muncul dan menginformasikan kereta ini sedang perjalanan ke Kutub Utara. Meski sempat ragu, anak tersebut kemudian memutuskan untuk ikut naik kereta. Anak laki-laki itu mengalami berbagai petualangan magis dan mempesona bersama kereta The Polar Express.

Entahlah, kereta api sepertinya menjadi pilihan beberapa penulis untuk mengobati rasa rindu, nostalgia, penasaran, ketakutan, kesedihan, dan rasa ingin tahu seorang anak. Kita bisa melihatnya juga dalam buku The Railway Children, Anak-anak Kereta Api karya E. Nesbit (Gramedia, 1991).

Buku ini berkisah tiga anak yang awalnya hidup berkecukupan. Namun setelah kepergian ayah mereka yang entah ke mana, kehidupan mereka berubah drastis. Hidupnya lebih sederhana dan banyak berhemat. Mereka pun harus pindah ke desa terpencil bersama Ibu mereka. Kini mereka sulit mendapatkan makanan enak dan mewah, apalagi perapian yang senantiasa hangat dengan batubara melimpah. Bahkan untuk sekedar minum teh sore sambil makan kue, baru bisa dinikmati setelah Ibu mereka berhasil mendapat honor dari hasil menulis cerita anak.

Beruntunglah rumah mereka saat itu berdekatan dengan rel kereta api dan stasiun. Setiap hari mereka bisa menghabiskan waktu di sana. Berkenalan dengan kepala stasiun, portir, bahkan dengan seorang penumpang kereta baik hati yang mereka panggil Pak Tua. Banyak kebaikan dan pertolongan yang mereka lakukan pada keseharian di sana. Saat mereka bosan bermain di rel kereta api, mereka bermain di sekitar sungai. Tapi justru dimarahi tukang perahu. Meski begitu mereka tetap menolong tukang perahu saat kesusahan. Mereka memang suka menolong. Bahkan mereka mendapat kehormatan serta hadiah dari kepala stasiun karena berhasil menolong para penumpang kereta api dari kecelakaan longsor. Meski kisah yang sederhana, buku ini sangat menarik bagi anak-anak karena mengajarkan bagaimana harus berbuat baik dan menolong orang dengan ketulusan lewat sebuah cerita. Cerita anak yang khas dengan kepolosan anak-anak.

Jika kita ingin mengetahui lebih banyak cerita inspiratif dari berbagai negara, bisa membaca buku Anak-Anak Sejagat, Seri Hastakarya Anak-Anak (Tira Pustaka, 1984). Buku ini memuat tiga puluh cerita dari tiga puluh negara di dunia. Mulai dari Amerika, Argentina, Australia, Yunani, India, Inggris, Jepang, Italia, Rusia, hingga Indonesia. Uniknya lagi, ilustrasi setiap cerita dibuat oleh seniman negara asal cerita atau telah akrab dengan kebudayaan negara pengarang. Sehingga kita bisa merasakan nuansa yang berbeda dari setiap cerita yang disajikan beserta ilustrasinya.

Buku ini bukan hanya banyak memberi inspirasi dan motivasi dari sudut pandang yang berbeda di setiap negara asal. Tapi kita juga bisa mendapat kekayaan cerita dan budaya dari tiga puluh negara yang berbeda dalam satu buku. Tentu, dengan keunikan ini kita akan mendapatkan sesuatu yang istimewa.

Kita kembali ke kisah Tamir. Kini ia telah sampai di tambang bernama Harlok. Salah satu tambang di kota langit. Tamir dipaksa bekerja sebagai penggali tambang batu seruni, bersama anak-anak lainnya. Ia sangat menderita dan sengsara. Tamir ingin kembali ke Kulila, tapi tidak bisa. Untuk apa batu seruni ini? Batu seruni termasuk batu langka yang digunakan untuk membuat mata uang di langit.

“Di bumi kita bisa menulis sejumlah seratus ribu di sehelai kertas, meskipun harga kertas itu tidak sampai seribu rupiah, tapi di sini tidak bisa. Hanya yang berharga yang dijadikan mata uang. Apa menurutmu orang-orang langit mau menukarkan sepuluh sapi mereka dengan kertas buram bertuliskan angka seratus juta? Mereka tidak bodoh. Orang-orang bumi yang bodoh. Orang bumi seperti kau” kata Mo memberikan penjelasan kepada Tamir, betapa bedanya uang orang bumi dan orang langit.

Di sini, Tamir juga  bertemu Vled yang jahat dan beberapa orang kasar lainnya. Tapi Tamir juga bertemu Baz yang baik hati. Ia selalu datang memberikan pertolongan saat Tamir dalam kondisi terdesak. “kita sama-sama sengsara, karena itu kita saling membantu. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, keadaan akan bertambah sulit.” (hlm. 97)

Tamir juga bertemu singa kabut yang sangat ditakuti semua orang. Tapi Tamir merasa sangat mengenal singa kabut itu, mirip seperti Tamir. Sebelah matanya buta. Ia juga hanya memandang dunia ini dengan satu mata. Satu mata untuk melihat segalanya. Kita sama,  hati Tamir berbisik. Apakah kau juga sendirian seperti aku? Apakah kau terlantar seperti aku? Apakah kau juga tidak punya ayah dan ibu?.

Di akhir cerita, singa kabut inilah yang akan menyelamatkan Tamir, Baz, dan Rupi melarikan diri dari tambang Harlok. Baz pernah bilang, kalau ia bebas, ia akan mengantarkan semua anak tambang ke Departemen Anak Terlantar, dan mengembalikan Tamir ke Kulila. Lalu Baz akan menjadi bapak asuh Kulila.

Tamir terbangun dan tiba-tiba sudah berada di Kulila, panti asuhan kesayangannya. Tamir masih bingung. Apakah yang ia alami baru saja hanya mimpi atau nyata? Tapi luka-luka yang ia alami sangat nyata. Ia menjauhi cermin. Kakinya menginjak buku Kereta Malam. Ia ingat, membaca buku itu sebelum tidur. Pasti gara-ara buku itu ia mendapat mimpi aneh. Tapi dari mana luka-luka yang ia alami ini?

Ia semakin terkejut saat muncul seorang laki-laki dan anak perempuan yang memperkenalkan diri sebagai ketua Yayasan Kulila yang baru. Ia bernama Pak Basuki. Perawakannya sangat mirip dengan Pak Baz yang selalu menolongnya di Tambang Harlok. Dan anak perempuan itu sangat mirip dengan Rupi. Apa mimpi itu nyata? Apa itu hanya mimpi dan semua yang terjadi pagi ini hanya kebetulan?

Novel ini berakhir bahagia. Kulila kini sudah memiliki pengurus lagi. Semua anak-anak panti asuhan merayakan hari raya Idul Fitri dengan sangat gembira. Mereka pun bisa sepuasnya makan opor ayam. Menu makanan yang selalu nantikan saat hari raya.

Secara umum, novel anak karya Maya Lestari GF ini memenuhi syarat sebagai cerita petualangan hero (kepahlawanan). Bermula dari anak biasa (Tamir si anak panti asuhan), berada dalam keadaan yang tidak diduga (masuk kereta malam), si tokoh harus menempuh perjalanan sulit (bekerja di tambang Harlok), tokoh memiliki mentor yang menemani (Pak Baz), tokoh memiliki  keistimewaan (pemberani dan bisa menaklukkan singa kabut), tokoh memiliki musuh utama (Vled), tokoh berhasil menaklukkan musuhnya dan menjadi hero (Tamir mengalahkan Vled dan berhasil menyelamatkan Baz dan Rupi). Gaya bercerita, plot, dan imajinasi yang ditawarkan penulis sungguh pas untuk anak-anak. Memanjakan imajinasi dan bahasa anak.

Dwi Supriyadi (Penulis dan penyuka buku anak)

Resensi ini bisa juga dibaca di Goodreads: https://www.goodreads.com/review/show/3835195963

Wakaf dan Pendidikan

wakaf pendidikan

Sumber gambar: http://www.wakavia.com

Bulan September (27/9) tahun lalu Jawapos menampilkan tokoh Sukino (43) seorang tukang becak asal Dusun Ceplukan, Desa Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Ia berniat  mewakafkan 300 meter tanah yang diwariskan orang tuanya untuk membangun masjid. Kejadian itu begitu menyentuh sampai-sampai beberapa media meliput dan Bupati Karanganyar, Rina Iriani, berkenan meluangkan waktu untuk berkunjung ke lokasi.

Sukino tentu seorang tukang becak yang istimewa. Ia begitu yakin mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, yang mana menurut Imam Abu Hanifah “harta yang telah diwakafkan tetap berada pada kekuasaan pewakaf (wakif) dan boleh ditarik kembali oleh si wakif kecuali untuk kepentingan masjid……”. Itu artinya Sukino tidak lagi memiliki kuasa untuk menarik kembali tanah yang diwakafkan, karena peruntukkanya bagi pembangunan masjid.

Tentu beliau memiliki alasan tersendiri, mengapa diwakafkan untuk pembangunan masjid dan bukan yang lain. Jika kita menilik di masa awal Islam, masjid sebagai harta wakaf mempunyai peran yang signifikan terhadap perkembangan peradaban. Selain memegang peranan utama sebagai sarana ibadah, masjid juga digunakan sebagai sarana pendidikan dan pengajaran. Masjid di masa itu menjadi sentra mencerdaskan dan membangun peradaban umat. Di dalamnya diajarkan cara membaca dan memahami Al-Quran dan pengetahuan umum lainnya. Kemudian dari masjid-masjid itu lahirlah beribu-ribu sekolah (madrasah) yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar.

sejarah

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Sejarah wakaf pertama kali ditelandakan sendiri oleh Rasulullah (Asy-Syaukani 1374 H: 129) saat membangun masjid Quba di Madinah, “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam, orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedang orang-orang Anshor mengatakan wakaf Rasulullah.” Enam bulan kemudian (setelah pembangunan masjid Quba) Rasulullah kembali berwakaf dengan membeli tanah Bani Najjar dengan harga 800 dirham, yang kemudian dibangunlah masjid Nabawi.

Pengorbanan serupa bisa kita lihat dari perjuangan KH. Ahmad Dahlan  (pendiri Muhammadiyah) dalam film Sang Pencerah (2010) dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dalam film Sang Kiai (2013). Mencerdaskan umat, itulah misi yang selalu mereka perjuangkan. Mereka membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para anak didik terutama para fakir miskin untuk dapat menuntut ilmu. Ini menjadi bukti bahwa wakaf menjadi instrumen penting dalam keberlangsungan dan kemartabatan lembaga pendidikan yang didirikan.

 

Sejarah tidak pernah berhenti mengabadikan bagaimana wakaf berperan dalam membangun peradaban, pendidikan, dan ilmu pengetahuan untuk terus maju. Tercatat dalam sejarah Islam pada masa pemerintahan Al-Ayubi (491-650 H/1187- 1252 M) dengan dana wakaf telah berdiri berbagai macam yayasan-yayasan pendidikan. Di saat pemerintah belum bisa diharapkan memajukan pendidikan, individu-individu pilihan muncul membangun sekolah-sekolah. Mereka mewakafkan sebagian besar harta yang dimiliki untuk dunia pendidikan.

Aset-aset wakaf terus berkembang hingga pemerintahan Abbasiyah. Di mana pada kekhalifahan kelima dari kekhalifahan Abbasiyah mucul Kejayaan Sang Khalifah Harun Ar-Rasyid (Benson Bobrick, 2013). Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid inilah pendidikan Islam berkembang sangat pesat. Hingga banyak ilmu-ilmu baru yang sampai saat ini terus dikembangkan, diantaranya bidang kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, farmasi, kimia, dan lain-lain. Juga dalam ilmu agama diantaranya tafsir, kalam, tasawuf, dan lain-lain.  Lembaga wakaf yang didirikan dari Baitul Hikmah ini menjadi sumber pembiayaan kegiatan pendidikan kala itu.

Abdul Qadir Annaimy (wafat 927 H) menjelaskan bahwa wakaf pada saat itu banyak yang dikhususkan untuk pendidikan para pelajar Makkah dan Madinah. Bahkan beberapa ulama telah mewakafkan harta khusus untuk menyediakan perealatan tulis seperti pulpen, kertas, dan tinta. Harta hasil wakaf umat Islam, kala itu juga banyak digunakan untuk kegiatan ilmiah. Misalnya, Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan dan melakukan penelitian, serta bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat.

Kemajuan pendidikan Islam di masa klasik bisa kita jadikan rujukan bahwa pendidikan dan wakaf memang mempunyai hubungan yang erat. Lembaga wakaf tiada henti menjadi sumber keuangan bagi keberlangsungan dunia pendidikan. Wakaf benar-benar mampu menjadi tumpuan untuk mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Pelajar tidak dituntut untuk membayar dana pendidikan secara penuh, sehingga baik miskin atau kaya mendapat kesempatan belajar yang sama. Terkhusus bagi mereka yang miskin akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang cukup sampai ia lulus. Karena itulah, pelajar-pelajar dan guru-guru di masa lampau terdorong untuk melakukan perjalanan ilmiah.

Satu hal lagi yang menjadi keunggulan, lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu setelah menyelesaikan suatu studi. Namun para ilmuwan diberikan kebebasan untuk mensosialisasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat umum dengan motivasi semata-mata karena Allah. Wakaf model inilah yang paling mendapat perhatian besar dari umat Islam. Hampir di setiap kota besar di negara-negara Islam, bisa dipastikan terdapat sekolah, universitas, perpustakaan, dan Islamic centre dari hasil wakaf. Seperti di Damaskus, Baghdad, Kairo, dan berbagai tempat lain.

Wakaf untuk kegiatan ilmiah seperti ini masih terus dijalankan, terutama dalam bentuk beasiswa, gaji pengajar, biaya penelitian (riset), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, seperti perpustakan dan alat-alat laboratorium, dan sebagainya. Salah satu yang menerapkan yaitu Universitas al-Azhar di Mesir yang berdiri lebih dari 1000 tahun lalu. Hingga kini pembiayaan universitas itu dikelola dari harta wakaf.

Apalagi potensi wakaf di  Indonesia sangat besar. Seperti yang bisa kita lihat dalam info grafis dari literasi zakat berikut:

Sumber: IG @literasizakatwakaf

Di Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak lama. Namun sayang peruntukannya masih inklusif pada pembangunan masjid, mushalla, makam, rumah yatim piatu dan lain-lain. Hal ini terjadi karena masih adanya warga masyarakat yang menganggap bahwa nilai keabadian dari wakaf hanya terlihat dalam bentuk aset tetap seperti tanah dan gedung. Sementara wakaf untuk kepentingan pendidikan dan kegiatan ilmiah, masih banyak yang meragukannya. Apakah wakaf model seperti itu juga bernilai abadi (amal jariyah) yang pahalanya terus mengalir?

Kita berharap berbagai elemen yang mengelola Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf) dapat memberikan pencerahan terkait permasalahan ini. Sehingga Ziswaf khususnya wakaf dapat difokuskan bagi kemajuan pendidikan. Saya masih meyakini, permasalahan sosial suatu negara akan teratasi secara bertahap dengan semakin majunya pendidikan suatu negara. Semoga.

#literasizakat

#bimasislam.kemenag

Bahagia Bersama Buku

Oleh: Dwi Supriyadi*)

Kita tidak tahu ada berapa banyak anak yang tidak berbahagia dengan buku. Bukan karena ia tidak menyukai buku. Tapi karena sejak awal orang-orang dewasanya di sekitarnya tidak mengijinkannya berbahagia dengan buku. Anak-anak tidak diberikan pengalaman bagaimana mengakrabi buku, takut bukunya rusak, sobek, atau kotor karena dicoret-coret. Tentu anak akan lebih berbahagia jika bisa seperti Na Willa (Reda Gaudiamo, 2018). Meski bapaknya jarang pulang karena menjadi seorang pelaut, rumahnya dipenuhi buku-buku. Mak selalu membeli buku setiap minggu. Di toko buku, di kios kecil samping gereja, juga oleh-oleh bapaknya. Na Wila memang belum bisa membaca. Tapi setiap malam sebelum tidur, Mak selalu membacakannya buku cerita. Kadang-kadang berbisik, kadang keras, kadang seperti bernyanyi. Na Willa tidak pernah bosan. Na Willa anak yang beruntung dan berbahagia. Ia tidak pernah dilarang melihat-lihat isi buku atau pun bermain dengannya.

na willa

Dokumen Pribadi

Inilah yang perlu disadari sejak awal oleh orang tua, warga sekolah, dan masyarakat bahwa anak butuh berbahagia dengan buku agar mereka mengenal literasi lebih dini. Baik itu literasi baca-tulis, numerasi, pengetahuan alam (sains), keuangan (finansial), digital, maupun budaya dan kewargaan. Menjawab tantangan abad ke-21 kita membutuhkan anak-anak yang mampu berfikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Tantangan itu bisa kita jawab jika anak sudah mengenal dan berbahagia dengan buku sejak dini. Buku akan membuat anak memiliki banyak kosa kata baru, ide-ide brilian, rasa ingin tahu yang tinggi, dan memiliki daya pikir dan imajinasi yang kuat.

Lantas bagaimana membuat anak-anak bisa berbahagia dengan buku sejak dini? Tentu bukan perkara yang mudah. Peran serta orang tua, lingkungan sekolah, dan warga masyarakat sangat diperlukan. Kita awali dengan lingkungan yang paling inti dan dekat dengan anak yaitu rumah atau keluarga. Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan. Pertama, sediakan banyak bahan bacaan baik berupa buku, majalah, komik, koran, poster, mainan edukatif, dan lainnya. Akan lebih baik lagi jika buku itu sesuai jenjang usia dan perkembangan anak. Seperti dalam buku Na Willa di atas. Mengapa Na Willa bisa begitu menyenangi buku? Karena orang tuanya selalu menyediakan berbagai bacaan untuk Na Willa. Bahkan oleh-oleh dari orang tuanya setelah bepergian jauh adalah buku. Na Willa sangat akrab dengan buku karena bahan bacaan itu ada di rumah. Inilah yang harus dibiasakan oleh para orang tua.

kelaurga

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Mary Leonhardt dalam karyanya 99 Ways to Get Kids to Love Reading and 100 Books They Love. New (1997) mengungkapkan mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan koleksi bahan bacaan anak antara lain: mencermati perkembangan selera membaca anak, buku-buku fiktif yang imajinatif biasanya lebih disukai, menyediakan buku-buku yang alurnya melibatkan minat khusus anak,  anak biasanya suka buku-buku humor, dan menyediakan buku tentang tokoh yang dikenal anak-anak.

medongeng

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Kedua, memberikan contoh pada anak dengan meluangkan waktu untuk membaca setiap hari. Kita harus ingat bahwa anak-anak adalah seorang pengamat yang handal, pendengar yang ulung, dan peniru ajaib. Jika kita memarahinya dengan cara membating sesuatu, percayalah saat dia marah ia pun akan membanting benda di sekitarnya. Lengkap dengan ekspresi wajah dan intonasi suara seperti yang biasa ia lihat dan dengar. Ini juga berlaku untuk kebiasaan sehari-hari. Jika ada waktu luang kemudian orang tua menghabiskan waktunya dengan bermain game online atau menonton sinetron kesayangan, maka si anak pun akan melakukan hal yang demikian ketika dia punya waktu luang. Alangkah baiknya jika orang tua dan orang dewasa di rumah itu memberikan contoh dengan membaca buku di waktu luang. Mungkin si anak belum bisa membaca, tapi ia akan mulai berinteraksi dengan benda bernama buku. Ia akan beranggapan bahwa buku itu istimewa sehingga orang tuanya sering memegangnya. Kita harus mengingat pesan William Butler Yaats: “Pendidikan itu bukan seperti mengisi ember, tetapi seperti menyalakan api.”

bahan bacaan

Awalanya anak menjadikan buku sebagai media mainan yang menyenangkan. Misalnya membawa buku kesana-kemari, ataupun membolak-balikan halaman buku. Ia mulai menyadari akan adanya tulisan di dalam buku dan mengenal huruf abjad. Selanjutnya ia akan bertingkah seperti orang tuanya, anak mulai pura-pura membaca buku dan memahami gambar. Dalam dirinya pun semakin tumbuh rasa ingin tahu saat ia memasuki usia sekolah. Si anak mulai tertarik pada bacaan dalam buku, mengingat tulisan, dan berusaha membaca berbagai tanda mesti tetap didampingi orang tua. Namun saat ia sudah dapat membaca tulisan dengan lancar, ia pun akan melahap banyak buku tanpa perlu didampingi oleh orang dewasa.

Ketiga, membacakan buku kepada anak setiap harinya. Inilah salah satu program yang saat ini sedang digalakkan oleh Sahabat Keluarga Kemdikbud yaitu Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (GERNAS BAKU). Harapannya dengan hadirkan Gernas Baku bisa membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak, mempererat hubungan sosial-emosi antara anak dan orang tua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

membaca bersama

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Orville Prescott dalam karyanya A Father Reads to His Children mengatakan “Tidak banyak anak-anak yang belajar mencintai buku dari dirinya sendiri. Harus ada orang yang memancing mereka masuk ke dalam dunia bahasa tertulis yang indah. Seseorang harus menunjukkan jalan pada mereka.”

membaca bersama ibu

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Keempat, menambah intensitas komunikasi dengan anak dan menceritakan hasil bacaannya. Saat anak sudah mulai bisa membaca sendiri tanpa bantuan orang tua, biasanya orang tua melepaskan. Tidak lagi terjalin komunikasi yang lancar. Sehingga anak tidak tahu harus bercerita kepada siapa terkait buku yang sudah ia baca. Bahkan beberapa orang tua memaksaan buku apa saja yang harus ia baca dan pelajari karena menunjang pelajaran di sekolah. Cara pandang ini harus dibenahi. Bahwa anak tetap butuh orang tua untuk teman diskusi dan bertanya. Ia juga berhak menentukan sendiri buku apa yang ingin ia baca, tanpa paksaan dari pihak manapun. Jika ia tidak menemukan teman diskusi, mungkin ia akan menghentikan kegemaran membaca buku karena tidak lagi mengasyikkan.

Plato mengingatkan kita: “Jangan melatih putra Anda dengan paksaan dan kekerasan, melainkan dampingi mereka melakukan hal yang mereka sukai. Sehingga mereka akan dapat menentukan persimpangan dalam otak mereka dengan lebih baik.”

Kelima, melibatkan anak ketika orang tua hendak membeli buku. Biasanya anak akan lebih suka memilih buku yang akan dibacakannya dari pada dibelikan. Ia pun merasa bangga karena dihargai untuk menentukan pilihan bukunya sendiri. Ia pun akan bersemangat saat orang tua akan membacakan buku cerita yang telah dipilihnya.

Jim Trealese

Dokumen Pribadi

Jim Trelease dalam bukunya The Read Aloud Hanbook (Membaca buku dengan nyaring melejitkan kecerdasan anak) berpesan: kita harus memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam membaca itu tidak menyakitkan sehingga mereka senantiasa gembira mengingat pengalaman tersebut, kini, dan selamanya. Namun jika pengalaman-pengalaman awal itu menciptakan pembaca di jam sekolah (yang penuh paksaan), ia tidak akan menjadi pembaca seumur hidup.

Keenam, mengajak anak untuk mengunjungi perpustakaan umum, perpustakaan keliling, dan taman baca. Saat ini sudah banyak perpustakaan daerah (perpusda) yang dibuka sampai jam sembilan malam atau bisa juga mengunjungi perpustakaan keliling yang diadakan di car free day setiap hari minggu. Bahkan ada taman baca yang bisa dikunjungi setiap waktu. Mengunjungi perpustakaan bersama akan meningkatkan komunikasi dan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Anak pun bisa bertanya banyak hal terkait buku yang akan ia baca ataupun pinjam.

toko buku perpus

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Terkait perpustakaan, Jonatha Fozol memberikan peringatan keras. Katanya: “tidak ada bentuk kejahatan yang lebih membahayakan bagi anak-anak (di kota utamanya selain tidak adanya perpustakaan di sekolah (yang memadai).”

Selanjutnya peran lingkungan sekolah untuk menumbukan literasi pada anak. Saat anak sudah mememasuki usia sekolah, ia akan mulai mengenal lingkungan baru yang sama sekali berbeda dengan lingkungan di rumah. Ada guuru-guru, teman-teman, dan berbagai kegiatan yang ada selama di sekolah. Jika kita sudah membiasakan anak untuk berbahagia dengan buku di rumah, hal ini harus juga di dukung oleh pihak sekolah agar bisa bersinergi. Sekolah bisa memulainya membuat acara parenting dengan tema menumbuhkan minat baca anak. Sehingga setiap orang tua tahu arti penting anak berbuku. Selain itu sekolah juga bisa menyelenggarakan kegiatan kelas inspirasi dengan tema manfaat senang membaca. Kelas inspirasi akan membuat siswa memiliki pengalaman yang menyenangkan terkait membaca buku. Kemudian setiap kelas diadakan pojok literasi (perpustakaan mini di setiap kelas). Keadiran pojok literasi membutuhkan kerja sama orang tua dan sekolah. Setiap anak membawa buku bacaan kemudian dikumpulkan jadi satu dan dijadikan pojok literasi. Setiap anak booleh meminjam dan membaca selama ada waktu luang di sekeolah, tapi tidak boleh dibawa pulang. Jika ingin membawa pulang buku, boleh meminjam di perpustakaan umum sekolah.

sekolah

http:/ /sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Terakhir peran lingkungan masyarakat untuk menumbukan literasi pada anak. Selain di rumah dan di sekolah, anak banyak menghabiskan waktu dengan teman bermain di lingkungan masyarakat tempat tinggal. Agar budaya literasi yang sudah dibangun di rumah dan sekolah tidak luntur, masyarakat perlu melakukan peran aktif. Kita simak berita Kompas 7 September 2018 yang mengabarkan bahwa saat ini ada 154.000 perpustakaan dikelola oleh pelbagai pihak. Tahun 2019, akan ada kucuran dana yang dialokasikan khusus untuk mengembangkan perpustakaan daerah. Kabar ini mungkin menggembirakan di tengah euforia literasi yang terus berkembang di daerah-daerah. Gerakan litarasi di berbagai tempat terus digaungkan agar Indonesia tidak selalu dicap sebagai negara yang memiliki kemapuan membaca buku di bawah rata-rata. Hingga berterima selalu menerima sumbangan buku dari luar negeri. Kita pun patut bersyukur pemerintah dan masyarakat setempat tetap menyemai benih bagi pembaca buku. Kini telah hadir perpustakaan daerah dan taman baca di berbagai tempat yang bisa dikunjungi kapanpun.

Selain menyediakan taman baca, masyarakat juga memberikan aturan jam belajar 18.00-21.00 untuk tidak menyalakan televisi, bermain hp, atau game onlie di warnet. Keberhasilan aturan ini sangat terkait dengan masing-masing orang tua dan anak di setiap keluarga. Diberlakukannya jam belajar ini, diharapkan orang tua dan anak memiliki waktu untuk bercengkrama bersama tanpa gangguan televisi, hp, dan lainnya. Orang tua bisa mengisi waktu itu untuk membacakan buku, menemani belajar, atau menemani anak mengerjakan tugas sekolah.

Peran serta orang tua, lingkungan sekolah, dan warga masyarakat untuk terus membudidayakan literasi akan sangat berguna bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Buku memberikan kebebasan anak untuk berimajinasi. Buku memang bukan hanya bacaaan bagi anak. Buku adalah teman bermain. Tidak masalah anak akan menjadikan buku sebagai bacaan atau mainan. Selama ia berbahagia bersama buku.

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga

 

Baca lebih lanjut

Bidadari Tanpa Sayap

 23133-3495-large

Judul Resensi : Bidadari Tanpa Sayap

Judul Buku : Cundamanik

Penullis :  Indah Darmastuti

Penerbit : Andi Publisher

Cetakan I :  April  2012

ISBN : 978-979-293-071-9

Tebal : 2308 Hlm


“Jika ada seorang lelaki yang demikian baik, bahkan terlalu baik, ia pantas dicurigai.” Demikian kesimpulan yang dulu sekali pernah ia buat bersama gank-nya semasa kuliah. Dan kini, yang mendekapnya mesra malam ini adalah lelaki mahabaik. Adakah kesimpulan itu berlaku untuknya? Untuk suaminya? Cunda gelisah luar biasa. 

Dua insan yang telah diikat dalam tali pernikahan, harus siap mengharmoniskan aneka ragam budaya, tradisi, keindahan, serta berbagai kekurangan pasangannya. Keluarga harmonis bukanlah keluarga yang sempurna tanpa ada masalah. Jusru keluarga harmonis akan terwujud ketika masing-masing pasangan menerapkan tanggung jawab secara baik. Jika itu terwujud, maka setiap permasalah rumah tangga yang datang pasti bisa diselesaikan dengan baik. Kita akan banyak belajar di situ. Dan membaca novel Cundamanik, akan semakin menambah khasanah kita bagaimana menghadapi masalah dalam rumah tangga secara jernih. Ada begitu banyak nilai kearifan yang coba diusung pengarangnya.

Adalah Prajna, seorang yang nyaris sempurna untuk seorang laki-laki single. Telah lulus S2 dan berhasil mendapatkan beasiswa S-3 sastra dan budaya di sebuah universitas di Muenchen, Jerman. Pria dengan kepribadian supel dan teguh pendirian. Ia baik, cerdas, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Wajar, jika menjadi dambaan setiap wanita. Sedangkan Cunda, seorang wanita desa yang cantik dan penuh sopan santun. Warga Gunungkidul yang selama hampir dua tahun menjadi relawan mengajar baca-tulis di luar jam kuliahnya di Gajah Mada.

Laki-laki dan perempuan yang sempurna. Takdirlah yang menyatukan mereka dalam pernikahan. Kesempurnaan Cunda seperti bidadari. Tapi seperti bidadari tanpa sayap. Tidak mampu terbang dan menikmati keindahan dunia secara utuh. Karena rahim yang ada di dalam tubuhnya, akan diangkat secepatnya. Ternyata di dalamnya menyimpan benih kanker yang tidak memungkinkan untuk pertumbuhan janin. Jika tetap di sana, maka rahim itu akan membawa Cunda pada kematian. Ini awal mula konflik dalam novel ini.

Padahal mempunyai anak merupakan salah satu tujuan dari berkeluarga dan merupakan impian sebagian besar pasangan yang telah menikah. Kehadiran anak dapat menjadi buah hati dan tanda cinta dari pasangan suami-istri. Seorang bayi juga umumnya ditunggu oleh orang tua dari pasangan yang ingin memiliki cucu.

Konflik ini semakin memuncak ketiga muncul nama Sekar, seorang mahasiswi ISI Yogya. Sekar adalah pacar Prajna saat masih kuliah di Yogja. Pada suatu malam Prajna bertemu Sekar di lereng Gunung Lawu di sebuah gubuk kecil milik penduduk. Ketika ia mendekap erat tubuh Sekar, semua telah terjadi. Setelah itu, Prajna tidak lagi bertemu Sekar

Siapakah sebenarnya Sekar? Mengapa setelah menikah dengan Cunda, ia masih mencari Sekar? Apakah Prajna mencari sekar untuk sekadar bertanggung jawab? Ke manakah Sekar selama delapan tahun? Mengapa ia menjual lukisan-lukisan  master piece-nya? Lalu, kebetulan apalagi yang terjadi di Gelari Spanyol, yang menjadi titik pengurai benang kusut dari kisah ini? Indah Darmastuti mengurai konflik ini dengan menarik dan tidak terduga.

Luar biasa! Itu kesan saya ketika sampai ke lembar akhir novel ini. Bahasanya yang renyah membuat saya tidak bisa berhenti membacanya. Alur yang dihadirkan bergerak maju-mundur membuat saya penasaran untuk segera menyelesaikannya. Sudut pandang orang pertama yang digunakan secara berganti-ganti antara Prajna, Cunda dan Sekar membuat tokoh menjadi lebih hidup dengan karakter yang kuat. Tema tentang kekuatan cinta sejati membuat novel ini kaya dan layak dijadikan sumber referensi. Karena setting yang ditampilkan bukan sekadar tempelan, sehingga terasa benar-benar merupakan pengalaman pribadi pengarangnya.

Membaca novel ini, kita serasa dibawa berpetualang ke Jerman menikmati hujan salju, belanja ke flohmarkt-troedelmarkt, pasar loak yang ada di koenigsstrasse (jalan Raja) di Kota Stuttgart, menikmati musim gugur dengan daun-daun kering dari pohon maple, dan kondisi stasiun kereta api Muenchen dan InterCity Express –kereta api supercepat ke Stuttgart, . Sungguh, sebuah kreativitas dalam menghadirkan setting yang patut diacungi jempol.

Yang membuat berdecak kagum, pengarang berhasil mengakhiri konflik ini dengan pendekatan kekeluargaan dan keterbukaan. Saya hampir tidak menemukan celah untuk mengkritisi novel pemenang II Sayembara Mengarang Cerber Femina 2010 ini secara konten. Kekuatan terbesar novel ini adalah cinta sejati dan kejernihan berfikir yang bisa dijadikan pelajaran bersama. Jangan saling menyalahkan dan saling menerima, itulah kata kunci yang ditawarkan dalam novel ini.

Cundamanik. Sebuah Mahakarya! Salah satu literasi bermutu yang layak untuk dikoleksi.