Resensi: Kereta Malam Menuju Harlok

  • Judul Buku             : Kereta Malam Menuju Harlok (Juara II Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak)
  • Penulis                   : Maya Lestari GF
  • Penerbit                 : Indiva Media Kreasi
  • Cetakan Pertama  : Januari 2021
  • Halaman                : 144 hlmn
  • ISBN                       : 978-623-253-017-1
  • Harga                     : Rp45.000,-

Pernahkah dada kita sesak, saat malam takbiran hari raya Idul Fitri, tidak bisa berkumpul dengan keluarga tercinta? Percayalah, ada yang lebih tragis. Inilah yang dialami Tamir, tokoh utama dalam novel anak  berjudul Kereta Malam Menuju Harlok (2021) ini. Bayangkan, sudah 11 tahun usianya, belum pernah bertemu ayah dan ibunya. Sejak kecil ia tinggal di panti asuhan Kulila, tempat menampung anak-anak cacat. Tamir hanya memiliki satu kaki. Ia tinggal di Kulila bersama 9 anak cacat lainnya.

Kesedihan itu semakin mendalam, tepat pada saat malam takbiran, Amang si pengasuh terakhir Kulila, kabur. Tamir dan anak-anak Kulila semakin gamang. Kini mereka benar-benar menjadi anak-anak terlantar. Tidak memiliki orang tua, tidak memiliki keluarga, dan kini ditinggal kabur petugas panti.

Namun Tamir masih memiliki satu hal yang berharga: BUKU. Ia mengambil buku cerita bergambar kesayangannya berjudul “Kereta Malam”. Buku itu pemberian seorang donatur. Semakin malam, Tamir tenggelam dalam cerita dan imaji.

“Kereta langit menuju selatan. Menjemput anak-anak yang tersesat jalan. Serta semua orang yang ditinggalkan. Tuut … tuuut …! Dengarkan suaranya. Tunggulah kedatangannya. Kereta langit menuju selatan. Tempat semua anak mewujudkan impian.”

Tiba-tiba Tamir mengalami kejadian aneh. Mendung bergulung di langit, suara petir, suara hujan, dan suara roda kereta. Air tumpah dari langit menghantam tubuh Tamir. Kepala Tamir terantuk sesuatu. Ia hilang kesadaran.

Saat terbangun, Tamir telah berada di dalam kereta yang akan membawanya ke Harlok, satu dari sekian banyak kota di langit. Tamir masih bingung. Apakah ini mimpi atau nyata? Tapi rasa sakit akibat benturan yang ia alami sangat nyata. Muncul petugas tiket. Ia menyobek lembaran bukunya. Sehelai tiket melambai ke udara.

Sampai di sini, saya teringat sesuatu. Seperti pernah melihat adegan serupa. Ada seorang anak yang dijemput kereta aneh kemudian muncul petugas tiket dan menanyakan tiket. Aha, saya baru ingat, adegan itu ada di film The Polar Express (2004).

Poster film The Polar Express

Film ini bertema petualangan yang mengisahkan tentang bocah laki-laki yang meragukan keberadaan Sinterklas. Tiba-tiba ia mengalami petualangan magis. Lokomotif uap berhenti di depan rumahnya. Seorang petugas muncul dan menginformasikan kereta ini sedang perjalanan ke Kutub Utara. Meski sempat ragu, anak tersebut kemudian memutuskan untuk ikut naik kereta. Anak laki-laki itu mengalami berbagai petualangan magis dan mempesona bersama kereta The Polar Express.

Entahlah, kereta api sepertinya menjadi pilihan beberapa penulis untuk mengobati rasa rindu, nostalgia, penasaran, ketakutan, kesedihan, dan rasa ingin tahu seorang anak. Kita bisa melihatnya juga dalam buku The Railway Children, Anak-anak Kereta Api karya E. Nesbit (Gramedia, 1991).

Buku ini berkisah tiga anak yang awalnya hidup berkecukupan. Namun setelah kepergian ayah mereka yang entah ke mana, kehidupan mereka berubah drastis. Hidupnya lebih sederhana dan banyak berhemat. Mereka pun harus pindah ke desa terpencil bersama Ibu mereka. Kini mereka sulit mendapatkan makanan enak dan mewah, apalagi perapian yang senantiasa hangat dengan batubara melimpah. Bahkan untuk sekedar minum teh sore sambil makan kue, baru bisa dinikmati setelah Ibu mereka berhasil mendapat honor dari hasil menulis cerita anak.

Beruntunglah rumah mereka saat itu berdekatan dengan rel kereta api dan stasiun. Setiap hari mereka bisa menghabiskan waktu di sana. Berkenalan dengan kepala stasiun, portir, bahkan dengan seorang penumpang kereta baik hati yang mereka panggil Pak Tua. Banyak kebaikan dan pertolongan yang mereka lakukan pada keseharian di sana. Saat mereka bosan bermain di rel kereta api, mereka bermain di sekitar sungai. Tapi justru dimarahi tukang perahu. Meski begitu mereka tetap menolong tukang perahu saat kesusahan. Mereka memang suka menolong. Bahkan mereka mendapat kehormatan serta hadiah dari kepala stasiun karena berhasil menolong para penumpang kereta api dari kecelakaan longsor. Meski kisah yang sederhana, buku ini sangat menarik bagi anak-anak karena mengajarkan bagaimana harus berbuat baik dan menolong orang dengan ketulusan lewat sebuah cerita. Cerita anak yang khas dengan kepolosan anak-anak.

Jika kita ingin mengetahui lebih banyak cerita inspiratif dari berbagai negara, bisa membaca buku Anak-Anak Sejagat, Seri Hastakarya Anak-Anak (Tira Pustaka, 1984). Buku ini memuat tiga puluh cerita dari tiga puluh negara di dunia. Mulai dari Amerika, Argentina, Australia, Yunani, India, Inggris, Jepang, Italia, Rusia, hingga Indonesia. Uniknya lagi, ilustrasi setiap cerita dibuat oleh seniman negara asal cerita atau telah akrab dengan kebudayaan negara pengarang. Sehingga kita bisa merasakan nuansa yang berbeda dari setiap cerita yang disajikan beserta ilustrasinya.

Buku ini bukan hanya banyak memberi inspirasi dan motivasi dari sudut pandang yang berbeda di setiap negara asal. Tapi kita juga bisa mendapat kekayaan cerita dan budaya dari tiga puluh negara yang berbeda dalam satu buku. Tentu, dengan keunikan ini kita akan mendapatkan sesuatu yang istimewa.

Kita kembali ke kisah Tamir. Kini ia telah sampai di tambang bernama Harlok. Salah satu tambang di kota langit. Tamir dipaksa bekerja sebagai penggali tambang batu seruni, bersama anak-anak lainnya. Ia sangat menderita dan sengsara. Tamir ingin kembali ke Kulila, tapi tidak bisa. Untuk apa batu seruni ini? Batu seruni termasuk batu langka yang digunakan untuk membuat mata uang di langit.

“Di bumi kita bisa menulis sejumlah seratus ribu di sehelai kertas, meskipun harga kertas itu tidak sampai seribu rupiah, tapi di sini tidak bisa. Hanya yang berharga yang dijadikan mata uang. Apa menurutmu orang-orang langit mau menukarkan sepuluh sapi mereka dengan kertas buram bertuliskan angka seratus juta? Mereka tidak bodoh. Orang-orang bumi yang bodoh. Orang bumi seperti kau” kata Mo memberikan penjelasan kepada Tamir, betapa bedanya uang orang bumi dan orang langit.

Di sini, Tamir juga  bertemu Vled yang jahat dan beberapa orang kasar lainnya. Tapi Tamir juga bertemu Baz yang baik hati. Ia selalu datang memberikan pertolongan saat Tamir dalam kondisi terdesak. “kita sama-sama sengsara, karena itu kita saling membantu. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, keadaan akan bertambah sulit.” (hlm. 97)

Tamir juga bertemu singa kabut yang sangat ditakuti semua orang. Tapi Tamir merasa sangat mengenal singa kabut itu, mirip seperti Tamir. Sebelah matanya buta. Ia juga hanya memandang dunia ini dengan satu mata. Satu mata untuk melihat segalanya. Kita sama,  hati Tamir berbisik. Apakah kau juga sendirian seperti aku? Apakah kau terlantar seperti aku? Apakah kau juga tidak punya ayah dan ibu?.

Di akhir cerita, singa kabut inilah yang akan menyelamatkan Tamir, Baz, dan Rupi melarikan diri dari tambang Harlok. Baz pernah bilang, kalau ia bebas, ia akan mengantarkan semua anak tambang ke Departemen Anak Terlantar, dan mengembalikan Tamir ke Kulila. Lalu Baz akan menjadi bapak asuh Kulila.

Tamir terbangun dan tiba-tiba sudah berada di Kulila, panti asuhan kesayangannya. Tamir masih bingung. Apakah yang ia alami baru saja hanya mimpi atau nyata? Tapi luka-luka yang ia alami sangat nyata. Ia menjauhi cermin. Kakinya menginjak buku Kereta Malam. Ia ingat, membaca buku itu sebelum tidur. Pasti gara-ara buku itu ia mendapat mimpi aneh. Tapi dari mana luka-luka yang ia alami ini?

Ia semakin terkejut saat muncul seorang laki-laki dan anak perempuan yang memperkenalkan diri sebagai ketua Yayasan Kulila yang baru. Ia bernama Pak Basuki. Perawakannya sangat mirip dengan Pak Baz yang selalu menolongnya di Tambang Harlok. Dan anak perempuan itu sangat mirip dengan Rupi. Apa mimpi itu nyata? Apa itu hanya mimpi dan semua yang terjadi pagi ini hanya kebetulan?

Novel ini berakhir bahagia. Kulila kini sudah memiliki pengurus lagi. Semua anak-anak panti asuhan merayakan hari raya Idul Fitri dengan sangat gembira. Mereka pun bisa sepuasnya makan opor ayam. Menu makanan yang selalu nantikan saat hari raya.

Secara umum, novel anak karya Maya Lestari GF ini memenuhi syarat sebagai cerita petualangan hero (kepahlawanan). Bermula dari anak biasa (Tamir si anak panti asuhan), berada dalam keadaan yang tidak diduga (masuk kereta malam), si tokoh harus menempuh perjalanan sulit (bekerja di tambang Harlok), tokoh memiliki mentor yang menemani (Pak Baz), tokoh memiliki  keistimewaan (pemberani dan bisa menaklukkan singa kabut), tokoh memiliki musuh utama (Vled), tokoh berhasil menaklukkan musuhnya dan menjadi hero (Tamir mengalahkan Vled dan berhasil menyelamatkan Baz dan Rupi). Gaya bercerita, plot, dan imajinasi yang ditawarkan penulis sungguh pas untuk anak-anak. Memanjakan imajinasi dan bahasa anak.

Dwi Supriyadi (Penulis dan penyuka buku anak)

Resensi ini bisa juga dibaca di Goodreads: https://www.goodreads.com/review/show/3835195963